KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN--Sebagai calon penunjang logistik dan infrastruktur untuk Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan mengalami perubahan signifikan dalam kondisi harga barang dan jasa.
Terdapat fluktuasi, dimana angka di bulan Agustus 2024, Balikpapan mencatat deflasi sebesar 0,20 persen secara month-to-month (m-to-m), namun mengalami inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,20 persen.
Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan harga dalam jangka pendek, secara keseluruhan harga barang dan jasa mengalami kenaikan dibandingkan dengan awal tahun ini.
“Secara umum, harga berbagai komoditas pada Agustus 2024 menunjukkan adanya kenaikan, yang berdampak pada inflasi tahunan. Hal ini bisa dikaitkan dengan peningkatan konsumsi dan kebutuhan masyarakat yang meningkat seiring dengan adanya pembangunan proyek strategis nasional seperti RDMP maupun IKN," ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama Prianto, Senin (2/9).
Dari data yang dikumpulkan pihak BPS Balikpapan, inflasi year-on-year (y-on-y) mencapai 2,26 persen, meningkat dari 104,88 pada Agustus 2023 menjadi 107,25 pada Agustus 2024. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya indeks harga konsumen (IHK) pada sepuluh kelompok pengeluaran utama.
Di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau, misalnya, mengalami kenaikan sebesar 5,37 persen. Kenaikan ini mencerminkan tekanan harga pada barang-barang konsumsi sehari-hari, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Dalam rincian lebih lanjut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan tertinggi dengan kenaikan 6,85 persen.
Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan produk perawatan dan layanan pribadi semakin meningkat, mungkin karena tingginya aktivitas ekonomi dan perubahan gaya hidup di tengah pergeseran ekonomi menuju IKN.
"Kelompok-kelompok pengeluaran tertentu seperti perawatan pribadi dan makanan merupakan indikator penting dari tren inflasi yang lebih luas, terutama dengan pertumbuhan konsumsi yang meningkat," ungkap Marinda.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan adalah perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, yang turun sebesar 1,07 persen. Ini menunjukkan bahwa beberapa sektor mengalami tekanan deflasi meskipun ada inflasi di sektor lain.
Kenaikan harga komoditas yang signifikan termasuk beras, emas perhiasan, sigaret kretek mesin (SKM), dan ikan layang menambah beban pada konsumen. Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami deflasi, seperti angkutan udara, tomat, dan bawang merah, yang dapat memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen.
Menganalisis lebih dalam, Marinda mengaitkan perubahan harga ini dengan perkembangan infrastruktur yang sedang berlangsung di Balikpapan dan sekitarnya. “Proses pembangunan IKN telah menyebabkan lonjakan permintaan di sektor-sektor tertentu, terutama dalam hal bahan bangunan dan kebutuhan logistik. Hal ini turut mempengaruhi harga-harga barang dan jasa di pasar,” ujarnya.
Ia menilai, Balikpapan sebagai salah satu kota yang menjadi bagian dari rantai pasok menuju IKN, menghadapi tantangan dan peluang yang signifikan. Konsumsi masyarakat lokal turut beradaptasi dengan dinamika yang ada, dengan beberapa barang mengalami lonjakan harga, sedangkan barang lainnya mengalami penurunan.
Lebih jauh lagi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi inflasi y-on-y sebesar 1,62 persen, sementara kelompok pakaian dan alas kaki hanya menyumbang 0,07 persen. Ini menunjukkan, bahwa konsumen mungkin lebih banyak mengalokasikan anggaran mereka untuk kebutuhan dasar seperti makanan, dibandingkan dengan pakaian dan barang-barang non-prioritas.
Di sisi lain, inflasi m-to-m menunjukkan variasi dengan komoditas seperti cabai rawit, bensin, dan popok bayi sekali pakai mengalami kenaikan harga, sedangkan ikan layang dan kangkung mengalami penurunan. Kenaikan harga bensin, misalnya, berpotensi mempengaruhi biaya transportasi dan, pada gilirannya harga barang-barang lain yang bergantung pada logistik.
Dengan adanya IKN, dampak jangka panjang dari pembangunan tersebut akan semakin terasa. Pembangunan infrastruktur yang intensif akan memengaruhi dinamika ekonomi lokal, dan kemungkinan besar akan terus mempengaruhi pola konsumsi dan inflasi di Balikpapan.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat fluktuasi dalam indeks harga, Balikpapan tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif. Namun, kebutuhan untuk mengelola inflasi dan dampak dari pembangunan IKN menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan masyarakat.
“Penting bagi kita untuk terus memantau dan menganalisis perubahan harga ini, untuk memahami bagaimana pembangunan mempengaruhi ekonomi lokal dan nasional. Ini adalah fase transisi yang membutuhkan adaptasi cepat dari semua pihak,” tambah Marinda.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko