Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Transmisi Konflik Selat Hormuz terhadap Inflasi Kaltim

U
Penulis: Ulil Mu'Awanah❯
Bambang Saputra, Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan
Bambang Saputra, Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan

Advertisement

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menutup kuartal pertama 2026, tekanan inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan dinamika yang patut dicermati. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat inflasi year on year (yoy) Maret 2026 sebesar 3,31 persen, lebih tinggi dibanding Maret 2025 yang hanya 1,36 persen. Di balik angka ini, ada benang merah yang menghubungkan konflik Selat Hormuz dengan harga-harga yang dirasakan warga Benua Etam.

Sejak eskalasi konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026, pasar energi global bergejolak hebat. Harga minyak mentah WTI melonjak hingga 104,72 dolar per barel pada Maret 2026 naik sekitar 56 persen dibanding bulan sebelumnya dan menjadi salah satu level tertinggi sejak 2022. Harga gas alam cair (LNG) global pun ikut melejit 67 persen hanya dalam sebulan.

Bagi Kaltim, ini bukan sekadar berita ekonomi global. Sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini memukul rantai pasok energi nasional yang pada akhirnya merembet ke harga-harga domestik, termasuk di Kaltim.

Jejak paling nyata dari guncangan energi global ini terlihat pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Di Kaltim, kelompok ini mencatat inflasi yoy sebesar 5,25 persen, dengan subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga melonjak 12,86 persen.

Tarif listrik menyumbang andil 0,76 persen terhadap inflasi tahunan Kaltim, angka yang signifikan. Tekanan ini diperparah oleh berakhirnya efek low-base diskon tarif listrik 50 persen yang diberlakukan awal 2025.

Advertisement

Risiko terbesar yang menghantui Kaltim ke depan adalah penyesuaian harga BBM. Pertamina memang masih mempertahankan harga seluruh jenis BBM per 1 April 2026, sehingga tekanan pada komponen transportasi relatif terjaga dalam jangka pendek. Namun kondisi ini berpotensi tidak bertahan lama.

Persoalannya ada pada fiskal. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya dipatok 70 dolar per barel jauh di bawah harga pasar yang kini melampaui 104 dolar per barel. Selisih yang menganga ini membuat beban subsidi energi membengkak drastis.

Jika konflik Selat Hormuz terus berlangsung, penyesuaian harga BBM menjadi skenario yang sulit dihindari. Bagi Kaltim, kenaikan BBM akan terasa berlipat dampaknya. Sebagai provinsi dengan wilayah luas dan ketergantungan tinggi pada transportasi darat dan laut untuk distribusi barang, setiap kenaikan harga bensin dan solar akan langsung mengerek ongkos logistik antarwilayah.

Data BPS Kaltim Maret 2026 sudah menunjukkan sinyal awal: bensin menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar di kelompok transportasi dengan andil 0,08 persen, meski harga BBM belum resmi naik, mengindikasikan ekspektasi kenaikan harga di tingkat pengecer sudah mulai terbentuk.

Efek rambatannya pun akan menjalar ke harga pangan, karena biaya angkut bahan makanan dari sentra produksi ke pasar-pasar di Kaltim ikut meningkat. Tekanan inflasi Kaltim juga datang dari beberapa sisi sekaligus. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,35 persen secara tahunan dengan andil 1,01 persen.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BI Wanti-Wanti Ancaman Inflasi di Kaltim, Kemarau Panjang Bisa Bikin Harga Pangan Naik

BI Wanti-Wanti Ancaman Inflasi di Kaltim, Kemarau Panjang Bisa Bikin Harga Pangan Naik

Bank Indonesia Balikpapan mewaspadai ancaman inflasi di Kaltim akibat musim kemarau panjang dan meningkatnya kebutuhan pangan.

Harga Naik Tipis, Inflasi Kaltim April 2026 Tembus 2,50 Persen

Harga Naik Tipis, Inflasi Kaltim April 2026 Tembus 2,50 Persen

Inflasi Kaltim April 2026 tercatat 2,50 persen. Harga ikan layang, beras, transportasi hingga emas perhiasan jadi penyumbang utama.

Belanja Subsidi Energi Melonjak Jadi Rp 376 Triliun, Menkeu Waspadai Lonjakan Harga Minyak Dunia

Belanja Subsidi Energi Melonjak Jadi Rp 376 Triliun, Menkeu Waspadai Lonjakan Harga Minyak Dunia

Belanja subsidi dan kompensasi energi tembus Rp 376,8 triliun per September 2026. Pemerintah kini waspadai lonjakan harga minyak mentah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer