Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hadapi Risiko Inflasi, TPID Perkuat Pasokan, Distribusi, dan Operasi Pasar

Raden Roro Mira Budi Asih
PASOKAN: Penguatan pasokan didorong melalui optimalisasi distribusi komoditas pangan strategis.
PASOKAN: Penguatan pasokan didorong melalui optimalisasi distribusi komoditas pangan strategis.

Advertisement

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi untuk memastikan stabilitas harga di Kalimantan Timur tetap terjaga sepanjang 2026. Upaya tersebut dijalankan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam kerangka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Fokus pengendalian diarahkan pada empat aspek utama, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan menjelaskan, penguatan pasokan dilakukan melalui pemantauan harga dan stok komoditas strategis secara rutin.

“Penguatan pasokan juga didorong melalui optimalisasi distribusi komoditas pangan strategis, penguatan cadangan pangan daerah, serta perluasan kerja sama antar daerah baik secara business to business maupun government to government,” jelasnya.

Untuk menjaga harga tetap terjangkau, TPID mengoptimalkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, dan pemantauan harga berkala di berbagai daerah. Langkah tersebut diperkuat dengan pemanfaatan Early Warning System (EWS) dan aplikasi pemantauan harga guna mendeteksi potensi gejolak sejak dini sehingga respons kebijakan dapat dilakukan lebih cepat.

Dari sisi distribusi, perhatian diarahkan pada kelancaran arus barang antarwilayah, kesiapan transportasi, serta ketersediaan bahan bakar. Subsidi ongkos angkut dalam pelaksanaan GPM juga terus dimanfaatkan untuk menjaga efisiensi biaya logistik.

Advertisement

“Koordinasi terkait stok bahan bakar dan kesiapan logistik diperkuat, khususnya pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), musim libur panjang, serta kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memengaruhi distribusi barang kebutuhan pokok,” jelas Jajang.

Selain itu, TPID juga meningkatkan edukasi publik melalui kampanye belanja bijak, pemanfaatan media komunikasi, dan gerakan pemanfaatan pekarangan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga ekspektasi inflasi masyarakat sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap ketersediaan pasokan pangan di Kaltim. (riz)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Inflasi Kaltim Tembus 4 Persen, Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar

Inflasi Kaltim Tembus 4 Persen, Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Kaltim pada Oktober 2026 mencapai 4,04 persen, tertinggi sejakFebruari

Inflasi Bulanan Kaltim di Oktober Hanya 0,07 Persen, Cabai Rawit dan Tomat Jadi Pemicu

Inflasi Bulanan Kaltim di Oktober Hanya 0,07 Persen, Cabai Rawit dan Tomat Jadi Pemicu

Inflasi bulanan Kaltim Oktober 2026 tercatat 0,07 persen. Cabai rawit dan tomat jadi pemicu utama kenaikan harga pangan di wilayah tersebut.

Inflasi Kaltim Tembus 4,04 Persen, Transportasi Sumbang Tekanan Terbesar

Inflasi Kaltim Tembus 4,04 Persen, Transportasi Sumbang Tekanan Terbesar

Inflasi Kaltim tembus 4,04 persen pada Oktober 2026. Biaya transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan di Kalimantan Timur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer