Jadwal Pasar Murah BSCC Dome Balikpapan: Sedia Beras Murah hingga Tukar Elpiji

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Tekanan harga pangan menjadi salah satu perhatian dalam gelaran Mahligai Nusantara 2026 di Balikpapan. Di tengah kondisi cuaca ekstrem dan ketergantungan pasokan dari luar daerah, pemerintah kota menghadirkan pasar murah sebagai salah satu langkah untuk menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat.
Pasar murah tersebut disediakan di area parkir Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome pada 11–13 September 2026, mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WITA. Kegiatan ini digarap oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan sebagai bagian dari rangkaian Mahligai Nusantara 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan.
Di lokasi acara, Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Haemusri Umar mengatakan, pasar murah tersebut tidak hanya menjadi bagian dari agenda daerah, tetapi juga diarahkan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kondisi iklim ekstrem yang berpengaruh terhadap produksi dan distribusi pangan.
Baca Juga: Puluhan Tenant Ramaikan Pasar Murah Mahligai Nusantara, Perumda Pangkas Harga Beras dan Telur
“Pasar murah ini kita hadirkan dalam event ini bertujuan untuk membantu masyarakat, khususnya masyarakat yang terdampak pasca el nino,” kata Haemusri.
Menurutnya, kondisi pasokan pangan Balikpapan memiliki kerentanan tersendiri. Sekitar 90 persen kebutuhan pangan kota tersebut masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Artinya, perubahan kondisi di wilayah sentra produksi dapat dengan cepat berpengaruh terhadap ketersediaan maupun harga komoditas di Balikpapan.
“Kalau kita lihat dari pola distribusi pangan kita, hampir 90 persen kebutuhan kita dari luar. Sehingga kita sangat berpengaruh dari daerah-daerah penghasil,” ujarnya.
Ketergantungan tersebut membuat gangguan produksi akibat kondisi cuaca ekstrem tidak berhenti di tingkat petani. Dampaknya dapat merambat ke rantai distribusi hingga konsumen akhir.
Baca Juga: Menggeris Bawa Kayu Kaltim ke Rekor MURI, Buat Jam Tangan Kayu Terkecil, Dibanderol Mulai Rp 4 Juta
Haemusri menyebut beras, minyak goreng, dan cabai sebagai tiga komoditas yang menjadi perhatian karena pergerakan harganya cukup berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kalau harga terkait dengan komoditas yang agak naik itu beras, kemudian minyak, kemudian cabai. Tiga komoditas ini yang variabelnya cukup besar mempengaruhi tingkat kebutuhan di masyarakat,” jelasnya.
Kondisi kemarau yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia turut menjadi tantangan karena Balikpapan sangat bergantung pada daerah penghasil. Ketika produksi di daerah asal terganggu atau biaya produksi meningkat, tekanan tersebut pada akhirnya ikut terbawa ke daerah tujuan distribusi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




