
KALTIMPOST.ID - Serangan milisi Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh beberapa hari lalu meningkatkan ancaman terhadap keselamatan jemaah umrah di Arab Saudi. Hal ini mendapatkan atensi serius dari para penyelenggara umrah di Kaltim.
Rekaman yang beredar setelah serangan di Riyadh memperlihatkan jemaah umrah bersiap menaiki pesawat di bandara. Situasi itu menggambarkan risiko yang dihadapi para pelancong yang datang ke Arab Saudi untuk beribadah dan mengunjungi dua Masjid Suci.
Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, bandara-bandara di Arab Saudi bukan sekadar tempat transit. Fasilitas tersebut menjadi pintu masuk bagi jemaah dan pengunjung yang hendak menuju Makkah dan Madinah untuk menjalankan ibadah. Karena itu, serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tidak hanya mengganggu perjalanan udara. Aksi semacam itu dapat membahayakan nyawa jamaah.
Baca Juga: Keberangkatan Jamaah Umrah Masih Sesuai Jadwal, Perketat Kewaspadaan dan Koordinasi Global
Direktur PT Global Mitra Travelindo Muh Ashar Effendi mengatakan, pihaknya terus memantau informasi resmi dari pemerintah, maskapai dan mitra di Arab Saudi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan perjalanan jemaah tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan.
“Situasi ini tentu menjadi perhatian calon jemaah, sehingga kami berupaya memberikan informasi yang transparan serta memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Untuk periode Oktober–November 2026, Global Travelindo tercatat memberangkatkan total 407 jemaah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 64 jemaah telah kembali ke Indonesia, sedangkan 42 jemaah masih berada di Makkah dan dijadwalkan pulang pada 23 Oktober 2026.
Ashar menyebut, hingga saat ini belum ada perubahan jadwal maupun pembatalan penerbangan yang dialami jemaahnya. Meski demikian, perusahaan tetap menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan perubahan situasi.
“Kami memantau informasi resmi, mengevaluasi rute dan jadwal bersama maskapai, memastikan kesiapan tim serta mitra di Arab Saudi dan menjaga komunikasi dengan jemaah serta keluarga,” jelasnya.
Dari sisi permintaan, Ashar mengungkapkan terdapat satu calon jemaah yang mengajukan pembatalan untuk jadwal keberangkatan 11 Januari 2027. Pengajuan tersebut bukan semata-mata disebabkan situasi keamanan, melainkan karena kondisi calon jemaah yang tidak memungkinkan untuk berangkat. Permohonan itu akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Terkait kemungkinan perubahan rute dan jadwal penerbangan, Ashar mengatakan, kondisi tersebut dapat memunculkan biaya tambahan. Besarannya bergantung pada kebijakan maskapai dan situasi yang terjadi. Karena itu, penanganan biaya akan mengacu pada perjanjian perjalanan yang telah disepakati.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




