Namun, Wiwit Andriyanti coba mengolahnya sebagaimana bumbu dapur. Dia racik menjadi olahan sambal hingga rabuk ikan. Kini produknya sering jadi buah tangan.
Sejak awal pandemi, Wiwit melihat potensi bawang dayak untuk dijadikan olahan lebih dari sekadar minuman.
Kini, usahanya perlahan berkembang bahkan produk-produknya sudah mejeng di berbagai pusat perbelanjaan. Dari yang sekadar usaha rumahan, saat ini mulai kebanjiran orderan.
Tak ingin biasa-biasa saja, dia ingin bisa terlibat dalam berbagai event dan kegiatan. Salah satunya tertarik mengikuti UKM Pangan Award 2024 gaweannya Kementerian Perdagangan (Kemendag).
Menjaring produk pangan terbaik dari seluruh Indonesia. Dengan nilai utama adalah kreasi dan inovasi serta kreativitas produk unggulan daerah berdaya saing.
"Tahu infonya sejak 2023, terus bertekad supaya bisa ikut di tahun ini. Kemudian dapat info pendaftarannya lewat grup komunitas UMKM, akhirnya coba lengkapi persyaratan dan kirim produk. Eh sebulan kemudian, diumumkan kalau saya lolos kurasi penjurian tahap pertama. Saya cek, ternyata saya satu-satunya dari Kaltim," ujarnya.
Di tahun lalu juga Wiwit turut lolos kurasi program Kementerian Perdagangan yang lain, produknya dikenalkan lewat expo.
"Ada dua produk, keminting dan rabuk ikan gabus punya saya. Terus saya lihat, ada booth besar dan produknya bagus-bagus, ternyata itu produk unggulan yang menang UKM Pangan Award 2023. Dari situ juga motivasinya," lanjut dia.
Dari 11 produk, satu yang dinilai paling potensial oleh juri yakni sambal cumi bawang dayak. Telah melewati penilaian produk, potensi pasar, dan kelayakan usaha.
Terdapat lima kategori yakni bumbu dapur, makanan camilan, makanan kemasan siap saji, minuman kemasan dan khusus. Produk Aqueena Wty masuk kategori bumbu dapur.
"Pengumumumannya kemarin (10 September), setelah satu bulan pasca pendaftaran. Prosesnya panjang. Ada penilaian kearifan lokal juga kan, apa ciri khas yang dibawa. Nah, saya angkat bawang dayak. Alhamdulillah bisa lolos. Tinggal satu langkah lagi prosesnya. Semoga bisa sampai final, rencananya akhir September ini finalnya," sebut Wiwit.
Tahun lalu, tercatat peserta yang mendaftar ada 1.134 pelaku UKM dari 31 provinsi. Dari hasil penjurian tahap pertama, tersisih menjadi 47 pelaku UKM dan terpilih 10 yang terbaik.
"Makanya dari tahun lalu sudah perbaiki semua. Dari segi kemasan, supaya lebih bagus. Kualitas juga. Senang sekali bisa lolos di tahap pertama," sambungnya.
Mengolah bawang dayak menjadi sambal diakui Wiwit, dia adalah orang pertama. Bahkan saat Festival Sambal Nusantara 2024, olahan sambal bawang dayak Wiwit jadi salah yang favorit.
Berbagai varian dikenalkan mulai dari rasa ebi, cakalang, papuyu, baby cumi, teri, layang, haruan hingga kepiting. Semuanya menggunakan campuran bawang dayak.
Saat ini ada empat orang yang membantunya produksi setiap hari. Wiwit bersyukur bisa sampai di tahap ini yang mulanya masih kemasan sederhana. Pengiriman luar daerah juga sudah sering dilakukan.
"Alhamdulillah bisa terus berkembang sampai sejauh ini, apalagi bawa produk lokal. Ke depan juga rencana semoga bisa ekspor," pungkasnya. (*)
Editor : Almasrifah