Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Hotel Five Premiere Samarinda Perbanyak Social Event untuk Selamatkan Bisnis

Nasya Rahaya • Sabtu, 7 Juni 2025 | 18:45 WIB
REKREASI: Memiliki fasilitas kolam renang bisa menjadi salah satu daya tarik Hotel Five Premiere Samarinda untuk menggaet kunjungan.
REKREASI: Memiliki fasilitas kolam renang bisa menjadi salah satu daya tarik Hotel Five Premiere Samarinda untuk menggaet kunjungan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tercekik oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Hotel Five Premiere Samarinda memilih banting setir. Dari yang semula menggantungkan pemasukan pada kegiatan instansi, manajemen kini gencar menggelar acara sosial demi menjaga roda operasional tetap berputar.

“Memang enggak bisa dipungkiri, revenue hotel itu paling besar dari kegiatan pemerintahan,” kata General Manager Hotel Five Premiere, Haidar, awal Juni lalu. “Begitu ada efisiensi, langsung terasa. Dari kamar, dari sewa meeting room, semuanya drop,” ungkapnya.

Biasanya, triwulan pertama setiap tahun memang menjadi masa paceklik bagi hotel-hotel di Samarinda. Penyebabnya, anggaran kegiatan belum turun. Tapi kali ini berbeda. Hingga kuartal kedua, pemesanan dari instansi pemerintah masih sepi. Ramadan pun gagal menjadi penyelamat. “Iftar yang biasanya mendongkrak pendapatan di bulan puasa juga enggak ramai. Minat masyarakat turun. Mungkin juga karena efek efisiensi menyeluruh,” katanya.

Hotel Five Premiere Samarinda bukan satu-satunya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan penurunan tingkat hunian hotel pada awal 2025 cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun pada April terjadi rebound sebesar 14,59 persen, para pelaku industri menilai kenaikan itu bersifat temporer dan belum cukup menutupi kerugian selama tiga bulan pertama.

Dalam kondisi normal, Hotel Five Premiere Samarinda bisa menerima daftar kegiatan dari instansi pemerintah hampir setiap hari, bahkan hingga akhir pekan. Tapi sejak awal tahun, jumlah itu bisa dihitung jari. “Dulu bahkan weekend pun penuh. Kegiatan bisa 4 sampai 5 hari. Sekarang paling banyak 10 sampai 15 kegiatan dalam sebulan,” ucapnya.

Situasi ini memaksa manajemen memangkas biaya. Tenaga kerja lepas, atau casual worker, menjadi korban pertama. “Casual itu sifatnya kondisional. Sekarang semua casual kami tidak pakai dulu. Daily worker kami kurangi hari kerja. Bahkan karyawan tetap pun sebagian kami masukkan ke skema unpaid leave, persis kayak waktu Covid dulu,” sebutnya.

Ia menyebut, kebijakan ini sebenarnya cukup menyakitkan, namun tak ada pilihan lain. Biaya operasional tetap berjalan, sementara pendapatan dari segmen utama tak lagi bisa diandalkan. “Untungnya, staf memahami kondisi. Ini bukan hanya masalah di Samarinda, tapi di seluruh Indonesia,” terangnya.

Kaltim, khususnya Samarinda, selama ini bergantung pada kegiatan instansi pemerintahan, bukan wisata. Letak geografisnya yang strategis dikelilingi oleh kabupaten seperti Bontang, Kutim, hingga Kubar membuat Samarinda jadi titik tumpu penyelenggaraan rapat dan pelatihan. “Banyak kabupaten buat kegiatan di sini karena fasilitas di daerah mereka belum memadai,” katanya.

Ketika ceruk pemasukan utama menyempit, manajemen Hotel Five Premiere mengalihkan fokus ke segmen lain yakni perusahaan swasta, sosial event, hingga inisiatif program hotel internal. “Kami genjot wedding, arisan, kompetisi mewarnai, sampai cooking class. Bahkan kami buat kompetisi zumba. Pendapatannya memang tidak besar, tapi bisa bantu nutupin operasional,” sebutnya.

Strategi itu mulai membuahkan hasil. “Bulan Mei kemarin mulai terasa peningkatan. Kegiatan pemerintah ada lagi meski masih terbatas. Tapi setidaknya kamar dan meeting room mulai jalan. Juni ini kami masih tunggu bagaimana trennya,” imbuhnya.

Menurutnya, upaya bertahan hidup tak hanya soal strategi pemasaran, tapi juga soal psikologi manajemen. “Kami harus tetap semangat, bikin suasana kerja tetap hidup. Karena kalau staf kehilangan harapan, produktivitas juga turun,” kata Dia.

Meski pemerintah melalui Menteri Keuangan telah menyatakan bahwa anggaran akan tetap disalurkan, hotel-hotel tidak serta-merta kembali hidup. Proses pencairan yang lambat dan selektivitas kegiatan membuat kebangkitan berjalan lamban. “Instansi sekarang sangat selektif. Mereka pilah-pilah kegiatan mana yang bisa dilakukan di hotel, mana yang tidak,” bebernya.

Hotel Five memperkirakan kontribusi segmen pemerintah bisa mencapai 60 persen dari total pendapatan pada tahun-tahun normal. Makanya begitu segmen ini menyusut, pendapatan hotel langsung goyang.

Namun ia tak mau larut dalam pesimisme. Ia percaya hotel-hotel di Samarinda masih punya peluang bertahan, setidaknya dalam jangka pendek. “Kalau ini berlangsung satu atau dua tahun ke depan, ya kita belum tahu. Tapi untuk beberapa bulan ke depan, dengan strategi yang tepat, kita masih bisa bertahan,” lanjutnya.

Bagi Hotel Five dan banyak hotel lainnya di Samarinda, masa adaptasi ini belum selesai. Mereka hidup di tengah ketidakpastian, di antara penyesuaian anggaran negara dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

“Yang penting sekarang kami bisa jalan dulu. Asal operasional tertutup, gaji terbayar, itu sudah cukup buat bertahan. Sisanya, tinggal bagaimana kita bisa terus putar otak,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#efisiensi anggaran #Five Premiere Hotel #presiden prabowo subianto #kaltim #pemasukan #samarinda #acara sosial #hotel