Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

35 Tahun di Dunia Batik, Lilis Suryani Jaga Kualitas dengan Teknik Lukis

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 23 November 2025 | 10:30 WIB
TEKUN: Akrab dengan canting dan lilin malam, membuat Lilis piawai menggores di atas kain. Normalnya, dia produksi 5-7 potong kain sebulan.
TEKUN: Akrab dengan canting dan lilin malam, membuat Lilis piawai menggores di atas kain. Normalnya, dia produksi 5-7 potong kain sebulan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tidak banyak yang tahu bahwa sejarah batik di Kalimantan Timur berakar kuat dari Kota Tepian. Adalah Lilis Suryani, perempuan yang sejak 1990-an telah menjadi saksi hidup perjalanan batik Samarinda, yang kala itu dikenal sebagai Batik Kaltim Mitaka.

Dia memulai kariernya di pabrik batik milik perintis bernama Sani Rachman pada 1990 akhir, jauh sebelum batik menjadi identitas khas daerah.

“Awalnya memang Batik Kaltim itu berasal dari Samarinda. Didirikan sekitar 1984 oleh Ibu Sani Rachman. Waktu itu workshop-nya masih di Jalan Nuri,” kenang Lilis saat ditemui di rumah produksinya, Jalan Manunggal, Loa Bakung.

Perempuan asal Samarinda itu tak langsung bekerja sebagai pembatik. Dia mengaku masuk ke industri batik berawal dari niat mencari pekerjaan.

“Saya mau kerja, tapi di situ enggak bisa langsung pegang kain. Harus belajar dulu. Jadi saya itu bagian nembok (menutup kain dengan lilin malam agar tidak terkena pewarna) awalnya,” ujar perempuan 56 tahun itu.

Setelah satu bulan belajar, Lilis akhirnya dipercaya mengerjakan lima lembar kain batik tulis. Saat itu, sistemnya borongan. “Saya dapat Rp25 ribu sebulan. Padahal zaman itu emas satu gram cuma Rp17 ribu di Pasar Pagi,” katanya, tersenyum mengenang masa itu.

Di pabrik tempatnya bekerja, ada hampir seratus karyawan yang terbagi di berbagai bagian. Ada yang khusus mengecap, mewarnai, menembok, dan menggambar hingga urusan administrasi. “Itu seperti pabrik besar. Dulu ramai sekali,” ujarnya.

Kesuksesan usaha batik itu bahkan sempat membawa sang pendiri, Sani Rachman, menerima penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto pada 1991. Saat itu, motif yang diproduksi sudah sangat khas Bumi Etam. “Ada motif akar-akar, tunjung siring, dan bentuk-bentuk khas ukiran daerah,” tutur Lilis.

Namun badai krisis moneter 1998 memukul keras industri itu. Banyak karyawan terpaksa dirumahkan. Beruntung, Lilis tetap dipertahankan karena sudah dipercaya memegang bagian lapangan dan quality control. “Saya juga ikut pameran-pameran dan pelatihan,” katanya.

Dia bertahan di sana hingga 2012. Setelah lebih dari dua dekade, Lilis memutuskan keluar. Diceritakan jika sebelumnya rumahnya dengan tempat produksi dekat. Namun dia harus pindah rumah lebih jauh. Transportasi jadi kendala.

Meski demikian, pengalaman panjang itu menjadi fondasi berharga bagi Lilis. Dia memutuskan untuk melanjutkan semangat batik Kaltim dari rumahnya sendiri.

“Waktu saya pamit, beliau bilang. kalau kamu mau bikin, bikinlah. Tapi jangan pakai nama Mitaka,” kenang Lilis menirukan pesan gurunya. Pesan itu menjadi awal babak baru dalam hidupnya. Dari tangan perempuan yang dulu belajar menembok kain di pabrik sederhana 30 tahun lalu, kini lahirlah merek batik baru yang meneruskan sejarah panjang batik Kaltim, Lilis Batik. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Lilis Batik #pabrik #batik #samarinda #kalimantan timur