Informasi itu memicu spekulasi luas, terlebih setelah perubahan struktur manajemen di tubuh Tokopedia. TikTok sebelumnya mengganti posisi Melissa Siska Juminto dari jabatan Direktur Utama menjadi komisaris. Melissa merupakan figur penting yang memimpin Tokopedia sejak didirikan William Tanuwijaya, yang kini berkiprah di GoTo.
Menanggapi kabar tersebut, pihak TikTok tidak membenarkan isu penutupan Tokopedia. Perusahaan menyatakan tetap berkomitmen menanamkan investasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengembangan bisnis dan inovasi.
TikTok, melalui induk usahanya ByteDance, telah mengakuisisi 75 persen saham Tokopedia pada Januari 2024. Sejak akuisisi itu, restrukturisasi internal tak terelakkan. Berdasarkan informasi yang beredar, ratusan karyawan Tokopedia terdampak pemutusan hubungan kerja hingga Agustus 2025, mencakup berbagai divisi seperti teknologi, layanan pelanggan, hingga logistik dan pergudangan.
Di sisi lain, TikTok Shop juga diterpa sorotan terkait kebijakan insentif. Platform tersebut disebut memberikan subsidi iklan khusus kepada pedagang asal Tiongkok, sementara pelaku usaha lokal Indonesia tidak memperoleh fasilitas serupa.
Dari sisi pasar, Tokopedia masih menempati posisi tiga besar aplikasi ritel dengan jumlah unduhan terbanyak di Indonesia. Sementara TikTok—meski dikategorikan sebagai aplikasi media sosial—mencatatkan nilai transaksi terbesar di Tanah Air, melampaui sejumlah platform digital lain.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang menyebutkan Tokopedia akan ditutup. Namun dinamika akuisisi, perombakan manajemen, dan efisiensi tenaga kerja menunjukkan industri e-commerce nasional tengah memasuki fase konsolidasi besar.
Editor : Uways Alqadrie