KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dinamika okupansi hotel menjelang Ramadan menjadi perhatian serius Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan. Organisasi ini menegaskan pentingnya menjaga stabilitas tarif di tengah potensi penurunan tingkat hunian.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Balikpapan Soegianto mengatakan pihaknya tengah memantapkan struktur kepengurusan agar organisasi semakin solid dan responsif menghadapi tantangan industri.
“Ada sedikit perubahan penyusunan posisi supaya organisasi lebih solid dan lebih cepat dalam menjalankan program-program,” tuturnya dalam rapat PHRI Balikpapan, Jumat (13/2).
Menurut Soegianto, salah satu agenda penting dalam waktu dekat adalah pembahasan strategi menghadapi kondisi pasar saat Ramadan. Ia mengakui, periode tersebut kerap diwarnai perlambatan okupansi, khususnya dari segmen perjalanan dinas dan korporasi.
Karena itu, PHRI mengimbau para pelaku usaha hotel dan restoran untuk tidak melakukan perang tarif yang dapat merusak struktur harga pasar.
“Kami mengimbau teman-teman, walaupun kondisi sedang sepi, tolong jangan banting harga. Jangan sampai terjadi perang tarif. Kita harus tetap bertahan dengan harga yang ada,” tegasnya.
Ia menilai, diskon berlebihan memang bisa mendongkrak okupansi jangka pendek, namun berisiko menekan margin usaha dan menurunkan standar industri secara keseluruhan. Stabilitas harga, lanjutnya, menjadi kunci menjaga keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dari sisi keanggotaan, Soegianto menyebut jumlah hotel dan restoran yang tergabung masih relatif stabil. Belum ada penambahan maupun pengurangan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Totalnya kurang lebih masih sama. Belum ada penambahan, dan sementara juga belum ada yang tutup,” katanya.
PHRI Balikpapan juga menyiapkan sejumlah program internal, termasuk pembahasan agenda sosial seperti pembagian takjil kepada masyarakat. Detail waktu dan lokasi kegiatan tersebut masih akan dirapatkan bersama anggota.
"Dengan konsolidasi organisasi dan disiplin menjaga tarif, PHRI berharap sektor perhotelan di Balikpapan tetap kompetitif tanpa mengorbankan kesehatan bisnis jangka panjang," tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo