KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Dampak perubahan kebijakan belanja pemerintah benar-benar dirasakan oleh pelaku industri perhotelan di Balikpapan.
Berkurangnya kegiatan rapat dan perjalanan dinas membuat tingkat hunian hotel mengalami tekanan signifikan, sehingga pelaku usaha harus melakukan penyesuaian strategi pasar.
Swiss-Belhotel Balikpapan menjadi salah satu hotel yang melakukan reposisi bisnis dengan memperkuat segmen korporasi sebagai sumber utama okupansi.
Dikatakan Director of Sales Swiss-Belhotel Balikpapan Devi Wahyudi, langkah ini diambil setelah manajemen membaca tren penurunan aktivitas pemerintah sejak penghujung 2025.
“Kami melihat sejak akhir tahun lalu kegiatan pemerintah mulai menurun. Karena itu strategi pemasaran langsung diarahkan untuk mencari sumber bisnis baru di luar segmen government,” tuturnya baru-baru ini.
Hotel dengan total 235 kamar tersebut sebelumnya banyak mengandalkan kegiatan instansi pemerintah, terutama untuk penggunaan ruang pertemuan dan akomodasi peserta kegiatan.
Kini pendekatan pemasaran difokuskan pada perusahaan swasta, BUMN, serta sektor industri yang masih aktif melakukan perjalanan bisnis.
Fasilitas meeting menjadi salah satu kekuatan utama yang ditawarkan. Swiss-Belhotel Balikpapan memiliki grand ballroom berkapasitas hingga 600 orang serta sembilan ruang rapat yang dirancang untuk berbagai kebutuhan acara perusahaan.
Sejak Desember 2025, tim penjualan mulai memperluas jaringan kerja sama dengan pelaku industri di Kalimantan, termasuk sektor energi, pertambangan, dan jasa pendukung operasional yang tetap membutuhkan kegiatan koordinasi tatap muka.
“Kita harus lebih agresif masuk ke pasar korporasi agar produksi kamar tetap terjaga,” kata Devi.
Meski fokus bergeser, pasar pemerintahan masih tetap dipertahankan secara selektif. Menurutnya, sejumlah daerah berkembang seperti Kutai Barat, Mahakam Ulu, Paser hingga Tanah Grogot masih rutin mengadakan pelatihan dan kegiatan di Balikpapan.
Ia menilai kondisi ini menjadi fase adaptasi bagi industri hotel agar tidak bergantung pada satu sumber pasar saja. Diversifikasi segmen dianggap sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan kebijakan fiskal pemerintah.
"Industri perhotelan kini semakin dituntut fleksibel membaca arah ekonomi, agar tetap mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan pasar yang berubah cepat," timpalnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo