KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Upaya menjaga stabilitas harga pangan di Kalimantan Timur tak lagi berhenti pada rapat koordinasi. Bank Indonesia (BI) Kaltim memilih masuk hingga ke hulu produksi padi melalui penguatan sarana dan prasarana pertanian.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto menegaskan, langkah tersebut tetap berada dalam koridor mandat menjaga kestabilan nilai rupiah melalui pengendalian inflasi daerah.
"Salah satu tugas BI itu menjaga kestabilan nilai rupiah. Di daerah itu kan terhadap barang dan jasa, jadinya inflasi,” ujarnya.
Melalui skema PI-KEKDA (Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah), yakni inisiatif pendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengendalian inflasi, dan penguatan ketahanan pangan di daerah.
Bantuan diberikan berupa sarana prasarana pertanian, alat mesin pertanian (alsintan), maupun digitalisasi untuk kelompok tani. BI Kaltim menyalurkan bantuan berupa satu paket drone sprayer dan satu unit genset kepada enam gabungan kelompok tani (gapoktan) pada 2024-2025.
Di Samarinda, bantuan diberikan kepada Gapoktan Awal Jaya di Kelurahan Sambutan pada 2025 dengan luas lahan 130,0 hektare dan pemanfaatan 20,5 hektare. Di Kutai Kartanegara, Gapoktan Bukit Biru di Tenggarong pada 2024 mengelola lahan 307,5 hektare dengan pemanfaatan 205,93 hektare, sementara Gapoktan Mandiri di Sidomulyo, Kecamatan Anggana, pada 2025 mencatat luas lahan 117,0 hektare dengan pemanfaatan 130,26 hektare.
Dukungan juga menjangkau Kutai Timur melalui Gapoktan Cipta Karya di Desa Cipta Graha, Kecamatan Kaubun, pada 2024 dengan luas lahan 250,0 hektare dan pemanfaatan 204,35 hektare. Di Kutai Barat, Gapoktan Harapan Makmur di Kampung Jambuk Makmur, Kecamatan Bongan, pada 2024 memiliki lahan 105,0 hektare dengan pemanfaatan 66,15 hektare.
Sementara di Berau, Gapoktan Manunggal Karsa di Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, pada 2024 mengelola 97,0 hektare dengan pemanfaatan 16,88 hektare.
Secara keseluruhan, luas lahan padi dalam program ini mencapai 1.006,5 hektare dengan total pemanfaatan 644,07 hektare. “Ketahanan pangan itu kaitannya dengan suplai. Kalau suplai cukup, harga bisa lebih stabil. Jadi mau enggak mau kita turun ke lapangan,” jelasnya.
Bayuadi menegaskan, BI bukan mengambil alih peran dinas teknis. “Kita bukan menggantikan dinas pertanian. Kita hanya pilot project, memberi contoh bahwa strategi tertentu bisa meningkatkan produksi,” tegasnya.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi lokal sehingga tekanan harga beras dapat ditekan dan inflasi lebih terkendali. “Intinya kita membantu mendorong. Ujungnya tetap ke stabilitas harga dan inflasi,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki