KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menjelang Lebaran tahun ini, pelaku usaha batik di Kalimantan Timur menghadapi tekanan berlapis di tengah perlambatan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pengusaha batik dan busana muslim, Ida Syachruni, yang menilai tantangan tidak hanya dialami sektor perhotelan dan ritel, tetapi juga para perajin wastra lokal.
Ida mengatakan jelang Lebaran tahun ini banyak hal yang menjadi tantangan, baik secara kondisi global maupun lokal, bukan hanya oleh bisnis perhotelan dan ritel yang mengalami kelesuan, bahkan bagi para pegiat perajin sepertinya juga tidak kalah menghadapi dilema.
Menurut dia, tekanan tersebut sudah terasa dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak kenaikan harga bahan baku dan meningkatnya persaingan di pasar fesyen lokal.
“Sebagai pelaku usaha yang tidak hanya menjalankan bisnis batik dan pakaian muslim, kekhawatiran itu sudah terasa beberapa tahun belakangan. Selain kenaikan harga bahan pokok dan bahan baku kami, persaingan juga semakin ketat sehingga pengusaha harus semakin inovatif,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pasar batik Kalimantan Timur hingga kini masih didominasi konsumen lokal. Pembeli dari luar daerah umumnya hanya membeli dalam bentuk suvenir dan jumlahnya relatif terbatas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan nilai jual produk.
Padahal, menurut Ida, perkembangan motif batik Kaltim dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Ragam motif dinilai semakin variatif dan kaya inspirasi lokal, mencerminkan identitas budaya daerah yang kuat. Namun tanpa strategi promosi yang terarah, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya teroptimalkan.
Ida menekankan pentingnya pembinaan terhadap pembatik muda agar ekosistem industri batik daerah tetap berkelanjutan. “Pembinaan bagi pembatik muda mesti dilakukan dan didampingi. Bukan berarti mereka harus disusui atau disuapi, tetapi harus didorong agar batik Kaltim tidak hanya dikenal di Kaltim saja,” katanya.
Ia juga menilai promosi wastra lokal tidak bisa hanya dibebankan kepada pelaku usaha semata. Peran berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas kreatif, hingga sektor swasta dinilai penting untuk memperkuat branding batik Kaltim di pasar nasional.
“Batik adalah warisan yang tak akan lekang oleh waktu asal benar-benar peduli dan mau melestarikannya. Jangan sampai motif batik Kaltim yang sudah ada redup dan terlupakan,” ujarnya.
Lebih jauh, Ida menegaskan pelaku usaha memiliki tanggung jawab sosial untuk menjaga keberlangsungan tenaga kerja lokal dan mendorong perputaran ekonomi daerah. Ia menilai inovasi, peningkatan kualitas, serta keberanian keluar dari zona nyaman menjadi kunci agar industri batik Kaltim tetap bertahan di tengah dinamika pasar.
“Pengusaha harus terus belajar, berani mencoba hal baru, dan tidak berhenti meski ada tantangan. Bagaimanapun manusia harus terus belajar hingga akhir hayat,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo