KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai tertahan pada triwulan IV 2025. Meski masih tumbuh positif, lajunya melambat dibandingkan periode sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Jajang Hermawan, menyebutkan pertumbuhan lapangan usaha pertanian tercatat 7,77 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini sedikit turun dari triwulan III 2025 yang mencapai 7,97 persen (yoy). “Perlambatan dipengaruhi penurunan produksi sejumlah komoditas utama, terutama kelapa sawit,” ujarnya.
Penurunan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut turut berdampak pada kinerja industri pengolahan turunannya. Di sisi lain, tekanan juga datang dari subsektor hortikultura dan tanaman pangan.
Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat menurun, terutama pada dua subsektor tersebut. Penurunan terjadi seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan tomat. Kenaikan harga ini mengindikasikan adanya keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi.
Selain itu, subsektor perikanan juga mengalami tekanan. Volume ekspor komoditas perikanan tercatat terkontraksi 7,41 persen (yoy) pada periode laporan. Kondisi ini turut menahan laju pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan.
Meski demikian, kinerja sektor pertanian Kaltim masih tergolong kuat. Namun, tekanan dari sisi produksi dan pasokan di sejumlah subsektor menjadi tantangan yang perlu diwaspadai ke depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo