Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Terbentuknya Bontang: Ikatan Harmonis Para Pendatang yang Menjelma Metropolis Industri Pesisir

A
Penulis: Adhiel kundhara❯
SEJARAH: Kota Bontang memiliki rentetan perjalanan dari permukiman pendatang hingga menjadi daerah otonom baru. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP
SEJARAH: Kota Bontang memiliki rentetan perjalanan dari permukiman pendatang hingga menjadi daerah otonom baru. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

Advertisement

BONTANG - Kota Bontang menyimpan lembaran sejarah panjang yang berakar dari tekad seorang bangsawan Kesultanan Kutai bernama Aji Pao, jauh sebelum kawasan pesisir ini berkembang menjadi episentrum industri gas alam cair dan pupuk berskala internasional.

Perjalanan berdirinya pemukiman di pesisir Kalimantan Timur ini bermula saat Aji Pao mengarungi kawasan pesisir bersama pengikut kepercayaannya demi menemukan harapan baru bagi keluarganya.

Dalam narasinya pada buku Bontang dalam Hikayat, budayawan dan penulis sejarah Kota Bontang Nasir Makara mengisahkan awal mula pembukaan lahan tersebut.

Advertisement

"Aji Pao yang hanya berbekal tekad dan semangat berjalan ditemani kepercayaannya untuk mencari tempat pemukiman baru yang memiliki masa depan, yang sanggup memakmurkan keluarga dan para pengikutnya," tulis Nasir Makara dalam catatan sejarahnya.

Dalam ekspedisinya menembus lebatnya belantara Borneo, rombongan kecil Aji Pao menjelajahi perbukitan curam, tebing terjal, serta mengarungi tanjung dan teluk pesisir timur Kalimantan.

Langkah mereka akhirnya terhenti di sebuah aliran sungai alami yang menurut kepercayaan masyarakat tutur setempat dijaga oleh tiga sosok gaib berjuluk Sang.

Advertisement

Ketiga entitas spiritual itu meliputi Sang Attak yang menjaga aliran anak Sungai Api-Api, Sang Kimah yang menguasai muara percabangan Sungai Sangkima, serta Sang Antan yang mengayomi anak Sungai Api-Api di kawasan Santan.

Karena badan utama Sungai Api-Api saat itu belum berpenghuni, Aji Pao memohon izin kepada ketiga penguasa tersebut untuk mengolah kawasan itu menjadi area pertanian, berburu, serta meramu hasil hutan.

Izin pun diperoleh, bahkan para penunggu sungai tersebut berjanji menjaga keselamatan rombongan sang bangsawan beserta seluruh keturunannya.

Keberhasilan Aji Pao mengelola lahan subur ini perlahan memantik denyut perniagaan tradisional berupa pasar barter yang sangat hidup.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer