KALTIMPOST.ID, BONTANG - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bontang memastikan program makanan bergizi gratis (MBG) tetap dibagikan saat Ramadan mendatang.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan, Aldila Huud, mengatakan untuk waktu pengantaran masih menunggu petunjuk teknis dari pusat.
“Kalau MBG-nya tetap (dibagikan). Tetapi terkait dengan durasi libur di awal Ramadan itu seperti apa masih menunggu dari pusat,” kata Aldila.
Namun jika mengacu dari tahun lalu, produk yang disalurkan nantinya berupa makanan kering. Mulai dari susu kemasan, roti, telur, hingga buah. Beberapa jenis itu nanti akan diantar menggunakan goodie bag. “Jadi seperti MBG untuk ibuk menyusui yang bentuknya kering,” ucapnya.
Pemilihan jenis produk itu dikarenakan agar makanan bisa dikonsumsi saat waktunya berbuka puasa. Pembagiannya tetap dilakukan di sekolah untuk pelajar. “Barang itu kami upayakan bisa tahan minimal 12 jam,” tutur dia.
Sementara, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menyebut skema distribusi masih menunggu arahan teknis lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Ia menjelaskan selama Ramadan siswa yang berpuasa tentu tidak makan siang di sekolah. Karena itu, mekanisme penyaluran MBG akan disesuaikan, kemungkinan dalam bentuk makanan kering yang bisa dibawa pulang untuk berbuka.
“Informasi dari pusat, program tetap berjalan. Kemungkinan diberikan sebagai bekal buka puasa bagi yang berpuasa. Yang tidak puasa bisa dibawa pulang,” terangnya.
Menurutnya, makanan kering dinilai lebih aman untuk menjaga kualitas hingga waktu berbuka. Jenis makanan yang disiapkan diperkirakan berupa susu, roti, buah, dan tambahan lain yang bergizi.
Ia menilai susu menjadi salah satu komponen penting karena memiliki manfaat besar bagi pertumbuhan anak. Asupan susu secara rutin diyakini mampu mendukung perkembangan fisik dan kecerdasan siswa.
Selain mekanisme distribusi, pemerintah juga menekankan pengawasan ketat terhadap kualitas makanan kering yang diberikan. Hal ini untuk mencegah adanya produk kedaluwarsa atau makanan instan yang kurang sehat.
Agus Haris mengatakan, pengawasan tersebut telah dibahas bersama Dinas Kesehatan Bontang dan tim terkait. Arahan khusus akan diberikan kepada seluruh pengelola SPPG sebelum Ramadan dimulai.
“Produk jadi seperti roti harus diperiksa secara detail. Bahkan kemasannya perlu dibuka untuk memastikan kualitasnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, makanan yang diberikan kepada siswa harus benar-benar aman dan sehat karena menyangkut kesehatan anak-anak. Pemerintah tidak ingin ada produk kedaluwarsa maupun bahan yang tidak layak konsumsi masuk dalam paket MBG.
Sosialisasi dan pengarahan kepada kepala SPPG, pengelola dapur, serta ahli gizi akan dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan. Tujuannya agar mekanisme distribusi dan standar kualitas makanan selama bulan puasa berjalan optimal. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo