KALTIMPOST.ID, BONTANG–Banjir besar kembali merendam permukiman warga di RT 29 Kelurahan Api-Api, Bontang, Sabtu (14/2). Ketinggian air bahkan mencapai pinggang orang dewasa dan disebut sebagai banjir terparah sejak 2019.
Warga RT 29 Api-Api Heri Subagyo mengatakan, air mulai meluber ke permukiman sejak Subuh sekitar pukul 05.00 Wita. Hingga siang, debit air terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda surut.
“Sekarang ketinggian terparah sudah sepinggang orang dewasa dan masih tambah naik,” kata Heri.
Menurutnya, sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya tetap bertahan di rumah masing-masing sambil memantau kondisi air. Situasi tersebut membuat aktivitas warga lumpuh total.
Akses jalan di kawasan tersebut saat ini tidak bisa dilalui kendaraan. Warga yang hendak keluar masuk kawasan terpaksa berjalan kaki menerobos genangan air setinggi pinggang.
“Biasanya kendaraan ditaruh di depan kantor kelurahan, baru jalan kaki masuk ke rumah,” ucapnya.
Dia menambahkan, hingga saat ini warga belum menerima bantuan dari pihak mana pun. Untuk kebutuhan makan dan logistik, warga terpaksa membeli secara mandiri di tengah kondisi banjir.
“Belum ada bantuan sama sekali. Malah kami patungan beli sendiri. Setiap banjir juga tidak pernah ada bantuan,” tutur dia.
Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap penanganan banjir yang kerap terjadi di wilayah mereka. Selain penanganan jangka panjang, warga juga berharap adanya bantuan darurat saat banjir melanda.
“Harapan warga secepatnya ditangani masalah banjir ini. Utamakan warga. Kalau banjir begini minimal ada bantuan makanan untuk warga,” terangnya.
Banjir kali ini disebut sebagai yang terparah sejak 2019. Warga khawatir kondisi akan semakin memburuk apabila hujan kembali turun dan air terus meningkat.
Hingga kini, warga RT 29 Api-Api masih bertahan di tengah genangan air sambil menunggu bantuan dan penanganan dari pihak terkait. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan agar dampak banjir tidak semakin meluas dan berkepanjangan. (*)
Editor : Dwi Restu A