
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Transformasi pendidikan tak lagi bisa diukur dengan pembaruan kurikulum atau penambahan infrastruktur sekolah.
Di kondisi pesatnya pertumbuhan teknologi digital dan akal imitasi (AI), kemampuan para guru atau tenaga pendidik dalam beradaptasi dengan perkembangan itu jadi tantangan lain yang juga perlu diperhitungkan.
Berangkat dari kesadaran itu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI menggelar sebuah lokakarya bertema "Transformasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Digital yang Interaktif dan Bermakna" pada Jumat (26/6).
Baca Juga: Pemangkasan RKAB Berpotensi Berdampak pada 10 Ribu Pekerja Tambang di Kutim
Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN AM Saifullah Aldeia, pakar pembelajaran digital Prof Eko Indrajit, serta Kepala BRIDA Kalimantan Timur Fitriansyah jadi tiga pembicara dalam acara yang digelar di Hotel Mercure Samarinda itu.
Kegiatan itu diikuti 100 guru SMA dan SMK di Kota Tepian untik mengembangkan pola adaptasi proses mengajar para tenaga pendidik agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Hadir lewat layar virtual, Hetifah menegaskan transformasi digital jadi sebuah keharusan dan sekolah-sekolah dituntut bergerak cepat agar tak tertinggal.
"Tanpa dukungan infrastruktur, kurikulum, dan budaya belajar digital yang memadai, kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terluar, terpencil, maupun pesisir akan semakin melebar," katanya.
Perubahan kebutuhan dunia kerja juga menjadi alasan mengapa transformasi pendidikan tidak bisa ditunda. Industri kini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai pengetahuan dasar, tetapi juga memiliki literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kecakapan berkolaborasi.
"Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing. Kita tidak bisa hanya berorientasi pada ijazah, tetapi harus menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan," kata legislator yang mewakili Kaltim di Senayan, DPR RI itu.
Teknologi dinilainya bisa menjadi jembatan pemerataan akses pendidikan. Pembelajaran hibrida, laboratorium virtual, hingga platform digital memungkinkan layanan pendidikan menjangkau lebih banyak peserta didik tanpa dibatasi kondisi geografis.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




