Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

El Nino Bikin Nelayan Kaltim Melaut Lebih Jauh, Beban BBM Membengkak  

N
Penulis: Nasya Rahaya❯
MEMBENGKAK: Hasrun Jaya menyoroti potensi kenaikan biaya operasional nelayan akibat perubahan zona tangkap saat El Nino. (Eko Pralistyo/KP) 
MEMBENGKAK: Hasrun Jaya menyoroti potensi kenaikan biaya operasional nelayan akibat perubahan zona tangkap saat El Nino. (Eko Pralistyo/KP)  

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dampak El Nino terhadap nelayan Kaltim tak selalu terlihat dari berkurangnya hasil tangkapan. Perubahan kondisi laut justru berpotensi membuat nelayan harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan. Kondisi ini berujung pada bertambahnya biaya operasional, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM).

Sekretaris DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kaltim, Hasrun Jaya mengatakan, dampak El Nino tidak bisa digeneralisasi terhadap seluruh nelayan. Sebab, karakteristik nelayan di Kaltim berbeda, mulai dari nelayan pesisir, laut lepas, perairan sungai dan muara, hingga nelayan budidaya.

Advertisement

“Kalau terkait dengan El Nino berdampak terhadap aktivitas nelayan, pasti berdampak. Namun, selaku pengurus HNSI, dampaknya itu tidak bisa digeneralisir untuk seluruh nelayan di Kaltim,” kata Hasrun.

Menurut dia, El Nino secara umum memengaruhi pola cuaca, curah hujan, suhu permukaan laut, angin, hingga arus air. Perubahan tersebut kemudian dapat memengaruhi aktivitas serta keberadaan dan pergerakan ikan di laut.

Advertisement

Bagi nelayan tangkap, persoalan yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah hasil tangkapan menurun. Pergeseran kondisi perairan dapat membuat nelayan memperluas wilayah pencarian ikan. Semakin jauh wilayah yang dijangkau, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.

“Hal yang paling berdampak bagi nelayan tangkap adalah ketika mereka harus semakin luas mengeksplorasi laut. Makin luas wilayah yang mereka jelajahi, makin banyak biaya logistik yang digunakan, termasuk penggunaan BBM,” ujarnya.

Hasrun menjelaskan, waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi tempat penampungan hasil tangkapan dapat menjadi gambaran. Jika dalam waktu singkat tempat penampungan sudah penuh, artinya nelayan tidak perlu menjangkau wilayah terlalu jauh.

Sebaliknya, apabila nelayan membutuhkan waktu berhari-hari untuk memenuhi cooler box atau tempat penampungan, maka kebutuhan logistik turut meningkat.

“Kalau satu jam saja sudah penuh, artinya kan jaraknya dekat. Tetapi kalau membutuhkan berhari-hari untuk memenuhi cooler box atau tempat penampungan mereka, berarti biaya yang dibutuhkan juga bertambah,” jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BMKG Ungkap Peralihan Angin Monsun Asia Tandai Awal Musim Hujan di Kaltim   

BMKG Ungkap Peralihan Angin Monsun Asia Tandai Awal Musim Hujan di Kaltim  

Sebagian besar wilayah Kaltim, kini mulai memasuki musim hujan.

Kajian CELIOS: Kerugian Ekonomi dan Kesehatan Akibat Karhutla 2026 Berpotensi Tembus Rp565 Triliun

Kajian CELIOS: Kerugian Ekonomi dan Kesehatan Akibat Karhutla 2026 Berpotensi Tembus Rp565 Triliun

Kajian CELIOS ungkap kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla 2026 tembus Rp565 triliun. Sektor kehutanan & ISPA paling terpukul.

Hadapi Potensi Kemarau Ekstrem 2027, Embung Lawe-Lawe PPU Disiapkan Jadi Cadangan Air Baku

Hadapi Potensi Kemarau Ekstrem 2027, Embung Lawe-Lawe PPU Disiapkan Jadi Cadangan Air Baku

Pemkab dan Perumda AMDT PPU optimalkan Embung Lawe-Lawe sebagai cadangan air baku untuk antisipasi ancaman kemarau ekstrem akibat super El N

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer