Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BOSF Perketat Syarat Pelepasliaran Orangutan di Hutan Kaltim

O
Penulis: Oktavia Megaria❯
BOSF memantau keamanan hutan dari karhutla sebelum melepasliarkan orangutan. Sebanyak 110 individu masih menjalani rehabilitasi.
KEAMANAN: BOSF memantau keamanan hutan dari karhutla sebelum melepasliarkan orangutan. Sebanyak 110 individu masih menjalani rehabilitasi.

Advertisement

BALIKPAPAN – Keamanan habitat menjadi salah satu syarat utama sebelum orangutan dilepasliarkan ke alam. Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) memantau kondisi hutan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik melalui citra satelit maupun pengecekan lapangan.

CEO BOS Foundation Samboja Lestari Jamartin Sihite mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan lokasi pelepasliaran aman dari titik api. Keputusan mengirim orangutan ke habitat baru dilakukan setelah kondisi hutan dinilai memungkinkan.

“Jika kami lihat cukup aman, maka kami memutuskan untuk mengirimkan ke sana,” ujarnya, Kamis (5/11).

Advertisement

Saat ini, Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur masih menjadi lokasi utama pelepasliaran. Namun, Jamartin menyebut daya tampung kawasan tersebut mulai mendekati batas. Karena itu, BOSF bersama Kementerian Kehutanan akan mengevaluasi kemungkinan penggunaan lokasi alternatif.

Menurut dia, kondisi hutan yang saling terhubung juga perlu menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Orangutan yang sebelumnya dilepasliarkan bisa saja telah menjelajah ke kawasan hutan lain.

Advertisement

“Kami akan segera melakukan evaluasi, karena hutan itu menyambung ke hutan yang lain. Mungkin yang ada di hutan itu tinggal beberapa (orangutan) karena mereka sudah eksplorasi ke tempat lain,” katanya.

Di pusat rehabilitasi Samboja Lestari, saat ini terdapat 110 orangutan yang dipersiapkan untuk kembali ke alam. Proses rehabilitasi membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan tahun, bergantung pada kondisi fisik dan perkembangan perilaku masing-masing satwa.

Manager Regional BOSF Kaltim Aldrianto Priadjati menjelaskan, ada tiga kemampuan utama yang harus dikuasai orangutan sebelum dilepasliarkan. Yakni memanjat pohon, membuat sarang baru setiap hari, serta mencari pakan secara mandiri di hutan.

Ketiga kemampuan itu menjadi bekal agar orangutan dapat bertahan hidup tanpa bergantung pada manusia setelah kembali ke habitat aslinya.

“Jadi, tiga kurikulum tersebut walaupun buat kita kelihatan sederhana, tapi kami memerlukan waktu sekitar delapan tahunan untuk bisa membuat mereka siap,” jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Musim Hujan Lebih Singkat, Pemprov Kaltim Sebut Ancaman Karhutla Belum Hilang

Musim Hujan Lebih Singkat, Pemprov Kaltim Sebut Ancaman Karhutla Belum Hilang

Karhutla Kaltim mencapai 2.500 kejadian hingga Oktober 2026. BPBD mencatat penurunan pada November, tetapi ancaman kebakaran masih ada.

Dua Pesawat Australia Dukung Operasi Water Bombing Karhutla di Balikpapan

Dua Pesawat Australia Dukung Operasi Water Bombing Karhutla di Balikpapan

Dua pesawat Australia tiba di Lanud Dhomber Balikpapan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla melalui metode water bombing.

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Kaltim, 588 Titik Panas Terdeteksi

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Kaltim, 588 Titik Panas Terdeteksi

BMKG mengingatkan potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang di Kaltim. Sebanyak 588 titik panas terdeteksi pada 4 November.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer