KALTIMPOST.ID, Sebagai warga Kaltim, tentu patut bangga banget dong dengan daerah ini.
Tapi, kamu pernah kepikiran nggak, kenapa sih kita nyebutnya Kalimantan, padahal orang luar lebih kenal dengan nama Borneo?
Jawabannya bukan sekadar soal beda penyebutan, tapi ada cerita panjang soal harga diri, stigma buruk, dan perjuangan identitas di baliknya. Yuk, kita bedah ceritanya!
Borneo: Nama Indah yang Tercoreng Stigma
Berdasarkan buku Historipedia Kaltim oleh Sejarawan Kaltim Muhammad Sarip dan Nanda Puspita Sheilla, awalnya, nama Borneo itu nggak ada yang salah.
Nama Borneo muncul sekitar abad ke-17, perubahan dari kata "Burnei", yang merujuk pada Barunei nama ibu kota sebuah kesultanan di utara barat laut pulau ini.
Nama Barunei atau Berunai (Brunai) itu sendiri konon berasal dari bahasa Sansekerta "Barnei" yang artinya tanah atau tempat. Cukup indah, kan?
Sayangnya, di abad-abad berikutnya, citra nama ini jadi kelam di mata orang Eropa. Para penjelajah yang datang mulai menuliskan kisah-kisah horor.
Puncaknya adalah buku The Head Hunters of Borneo (1882) karya Carl Bock, yang melabeli pulau ini sebagai sarang manusia primitif yang doyan memenggal kepala (tradisi Ngayau).
Stigma ini terus-menerus digoreng. Muncul lagi buku The Land of the Head Hunters (1920) dan berbagai tulisan lain yang bikin cap "pulau barbar" makin nempel.
Ironisnya, kolonial Belanda yang ngasih cap jelek, justru melakukan hal yang sama dengan memenggal kepala para pejuang Perang Banjar.
Karena citra buruk inilah, para kaum terpelajar dan pejuang lokal merasa nama "Borneo" adalah sebuah penghinaan.
Mereka menolak mentah-mentah nama itu dan memilih identitas baru yang lebih mencerminkan jati diri.
Jauh Sebelum Dikenal Asing, Pulau Ini Punya Nama Luhur
Penolakan itu sangat beralasan. Jauh sebelum nama Borneo populer, pulau ini sudah punya nama-nama yang jauh lebih luhur dan filosofis.
- Menurut tradisi lisan Suku Dayak kuno, pulau ini disebut Pulau Goyang, yang bermakna "pulau suci" yang diberkati.
- Ada juga nama Bagawan Bawi Lewu Telo, yang artinya "negeri tempat tiga putri".
- Tradisi lisan Kerajaan Hindu abad ke-13 pulai ini diberi nama Tanjung Negara (pulau yang punya banyak tanjung alias daratan yang menjorok ke laut)
- Bahkan Kitab Negarakretagama dari era Majapahit abad ke-14 sudah mencatat nama Tanjungpura, sebutan untuk Pulau Kalimantan yang masuk dalam wilayahnya.
Kalimantan: Nama Pilihan yang Penuh Perjuangan
Di tengah citra buruk "Borneo", nama "Kalimantan" kemudian digunakan sebagai simbol perlawanan.
Nama ini mulai populer sejak era Kesultanan Banjar pada 1526. Ada dua teori keren soal asal-usulnya: dari kata "Kali-Matan" (sungai besar) yang menggambarkan alamnya, atau dari nama pohon "Kalamantan" yang banyak tumbuh di sini.
Yang menariknya lagi, semangat mempopulerkan nama "Kalimantan" juga membara di tanah Kaltim.
Pada 1930-an, media cetak lokal di Samarinda seperti koran SORAK (Soeara Rakjat Kalimantan) dan Kalimantan Timoer dengan lantang menyuarakan identitas ini. Keren kan?
Warisan Perjuangan di Era Ibu Kota Nusantara
Meski nama Borneo sempat dipakai sebentar di awal kemerdekaan, semangat nasionalisme akhirnya mengubur nama itu dan memilih Kalimantan. Yang kemudian dimekarkan menjadi 3 provinsi.
Bagi masyarakat Kaltim, ini bukan sekadar cerita. Nama "Kalimantan Timur" yang kita sandang adalah warisan perjuangan identitas para pendahulu.
Kini, saat Kaltim jadi sorotan dunia sebagai lokasi IKN, penting bagi kita untuk ingat bahwa nama yang kita bawa punya sejarah perlawanan yang mendalam. ***
Editor : Dwi Puspitarini