Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ojol Jadi Garda Awal, dari Antar Penumpang hingga Antar Laporan Kekerasan

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 10 Februari 2026 | 15:00 WIB
KOLABORASI: Ojek online digandeng sebagai upaya perlindungan perempuan dan anak, menjadi pelopor sekaligus pelapor ketika melihat tanda-tanda kekerasan di sekitar mereka.
KOLABORASI: Ojek online digandeng sebagai upaya perlindungan perempuan dan anak, menjadi pelopor sekaligus pelapor ketika melihat tanda-tanda kekerasan di sekitar mereka.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di balik helm dan jaket yang setiap hari berseliweran di jalanan Kalimantan Timur, para pengemudi ojek online (ojol) diam-diam memikul peran yang jauh lebih besar dari sekadar mengantar penumpang.

Mereka kini ikut berdiri di barisan depan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menjadi pelopor sekaligus pelapor ketika melihat tanda-tanda kekerasan di sekitar mereka.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak (PPPKA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Junainah, menjelaskan keterlibatan ojol dalam upaya perlindungan perempuan dan anak bukanlah hal baru. Kemitraan itu sudah berjalan sejak lama dan terus diperkuat melalui berbagai skema kolaborasi di lapangan.

“Ojol-ojol ini bisa melaporkan dan sudah pernah, baik itu melaporkan kepada komunitas-komunitas seperti itu maupun kepada kami secara langsung,” ujar Junainah saat kegiatan Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak Bersama Ojol Berlian (Bersama Lindungi Anak), Senin (9/2).

Tak hanya berhenti pada laporan, para pengemudi ojol juga kerap menjadi jembatan awal bagi korban yang masih ragu melangkah sendiri. Mereka mengantar, menemani, bahkan mempertemukan korban dengan layanan yang tersedia di DP3A Kaltim.

“Malahan tidak hanya melapor, mereka membawakan orang yang kadang-kadang ingin berkonsultasi atau mungkin ingin berdialog dengan kami,” lanjutnya.

Dalam ekosistem perlindungan perempuan dan anak, DP3A Kaltim memiliki sejumlah pintu layanan. Mulai dari bidang pencegahan, penanganan, hingga Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang terbuka bagi masyarakat umum. Di titik itulah peran ojol kembali terasa.

“Ojol juga terlibat di situ. Mereka bawakan orang-orangnya yang mau nanya tentang apa saja, tentang pencegahan-pencegahan kekerasan bisa. Jadi memang kami bina dan rutin kami edukasi,” jelas Junainah.

Dia menegaskan, keberadaan mitra lapangan seperti ojol dan Tim Reaksi Cepat (TRC) membuat masyarakat tak lagi harus kebingungan ketika menghadapi atau mencurigai adanya kekerasan. Saluran pelaporan semakin dekat, lebih membumi, dan terasa aman.

Kemitraan yang telah berjalan sejak lama itu, menurut Junainah, menjadi bukti bahwa pencegahan kekerasan tidak bisa hanya mengandalkan kantor dan regulasi. Dibutuhkan mata, telinga, dan kepedulian yang hadir langsung di tengah masyarakat.

Dengan semakin luasnya jejaring pelapor di akar rumput, DP3A Kaltim berharap pencegahan bisa dilakukan lebih dini, bahkan sebelum kekerasan mencapai tahap yang lebih parah. Ojol pun kini bukan sekadar bagian dari sistem transportasi, melainkan bagian dari sistem perlindungan sosial. (*)

Editor : Duito Susanto
#DP3A Kaltim #ojek online #kaltim #kekerasan perempuan dan anak #Komunitas Ojol