Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jam Paling Rawan Serangan Jantung dan Stroke Terungkap, Dokter: Terjadi antara 04.00–08.00

Uways Alqadrie • Minggu, 23 November 2025 | 16:55 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Serangan jantung dan stroke bukan peristiwa acak. Sejumlah kajian medis menunjukkan kedua kondisi gawat darurat itu memiliki pola waktu yang jelas. 

Dokter spesialis jantung, Senior Director Cardiology di Fortis Faridabad Sanjay Kumar, menyebut insiden paling banyak terjadi pada pagi hari, khususnya pukul 04.00–08.00. Rentang waktu itu bertepatan dengan perubahan fisiologis tubuh menjelang seseorang terbangun.

Kumar menjelaskan, sistem kardiovaskular manusia mengikuti ritme sirkadian, yang mengatur pola hormon, tekanan darah, hingga respons pembuluh darah. 

Menjelang pagi, tubuh melepaskan kortisol dan katekolamin lebih tinggi untuk memicu tubuh beralih dari fase tidur ke kondisi aktif. “Lonjakan hormon ini membuat tekanan darah melonjak dan detak jantung meningkat,” kata Kumar, dikutip dari Hindu Times.

Pagi hari juga menjadi periode ketika risiko pembentukan bekuan darah naik. Peningkatan hormon kortisol memicu produksi PAI-1, enzim yang menghambat proses pelarutan bekuan. 

Begitu aliran darah tersendat, peluang terjadinya penyumbatan di otak maupun jantung meningkat tajam. Kondisi tersebut diperparah dehidrasi semalaman, yang membuat kekentalan darah bertambah.

Kumar menyebut kombinasi tiga faktor—lonjakan hormon, tingginya kecenderungan pembekuan darah, dan kekentalan darah akibat kurang cairan—membuat pagi hari menjadi “jam rawan” bagi pengidap penyakit kardiovaskular. 

Mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau penumpukan plak dianjurkan lebih waspada pada jam tersebut.

Menurut Kumar, kewaspadaan ini bukan untuk menciptakan ketakutan, tetapi untuk meningkatkan kesadaran bahwa pola biologis tubuh punya konsekuensi nyata terhadap kesehatan jantung.

Kebiasaan yang Membahayakan

Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Amerika Serikat, dan jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahun. Banyak faktor risiko yang sebenarnya dapat dikendalikan, terutama terkait kebiasaan harian.

Menurut Dr Simran Malhotra, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan stroke. 

Faktor risiko yang bisa dimodifikasi—mulai dari pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga konsumsi tembakau dan alkohol—berada sepenuhnya dalam kendali individu.

Penelitian menunjukkan bahwa hingga 84 persen kasus stroke berkaitan dengan faktor gaya hidup yang dapat diubah. Tak hanya aktivitas dari pagi hingga sore, rutinitas setelah pukul 5 sore juga berpengaruh besar pada kesehatan jangka panjang.

Berikut kebiasaan malam yang sebaiknya dihindari untuk memangkas risiko stroke:

1. Makan Malam Terlalu Larut

Makan larut malam dianggap biasa, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal padat. Namun, kebiasaan ini dapat mengganggu ritme sirkadian, mempengaruhi tekanan darah dan metabolisme. Dalam jangka panjang, gangguan tersebut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa studi juga menemukan bahwa makan setelah pukul 21.00 berkaitan dengan risiko stroke yang lebih tinggi.

2. Terlalu Banyak Diam atau Bermalas-malasan

Setelah makan malam, banyak orang memilih langsung duduk santai atau berbaring. Jika aktivitas pasif ini berlangsung terlalu lama, risikonya meningkat—terutama bagi mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu duduk sepanjang hari.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa individu di bawah 60 tahun yang menghabiskan lebih dari delapan jam untuk aktivitas pasif memiliki risiko stroke 3,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang lebih aktif.

Sisi baiknya, berjalan kaki 20 menit setelah makan malam terbukti membantu pencernaan, menjaga gula darah, dan menekan risiko hipertensi maupun penyakit jantung.

Editor : Uways Alqadrie
#Unit Gawat Darurat #serangan jantung #rsud aw sjahranie #RS Jantung Jakarta #rs harapan #serangan stroke