KALTIMPOST.ID, MUARA JAWA — Lampu-lampu sorot menerangi deretan motor modifikasi yang berjajar rapi di Lapangan Sudirman, Muara Jawa, Sabtu malam, 17 Januari 2026.
Di bawah tenda terbuka, ratusan pengunjung mengitari area kontes, memperhatikan detail demi detail motor yang dipamerkan, dari ubahan kaki-kaki, sentuhan cat, hingga kerapian mesin. Suasana itu menjadi gambaran Muara Jawa Modification Contest Seri 2 yang berlangsung padat dan hidup hingga malam.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pamer hasil modifikasi, tetapi dirancang sebagai ruang pembinaan bagi modifikator lokal di kawasan pesisir Kutai Kartanegara.
Kontes ini melibatkan tiga kecamatan, yakni Muara Jawa, Samboja, dan Sanga-Sanga, serta digelar secara berjenjang sejak seri pertama hingga seri kedua yang menjadi final.
Ketua Panitia Pelaksana Muara Jawa Modification Contest Seri 2, Yudi Aprianto, mengatakan konsep berseri dipilih agar peserta tidak hanya datang untuk berlomba, tetapi juga belajar dan berkembang.
“Kami memang buat bertahap. Dari seri satu ke seri dua, tujuannya supaya peserta punya waktu belajar dan memahami regulasi modifikasi,” kata Yudi.
Menurut dia, pemahaman aturan menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. “Bukan cuma soal tampilan motor bagus atau tidak, tapi bagaimana modifikasinya sesuai aturan, rapi, dan aman. Itu yang terus kami tekankan,” ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme peserta dan penonton relatif tinggi. Deretan motor memenuhi area kontes yang dibatasi garis pengaman, sementara pengunjung silih berganti mengabadikan tampilan motor yang dipamerkan.
Beberapa peserta tampak berdiskusi dengan juri maupun sesama modifikator, membicarakan konsep dan detail pengerjaan motor mereka.
Yudi menyebut partisipasi peserta relatif stabil sejak seri pertama. “Alhamdulillah dari seri pertama sampai seri kedua pesertanya selalu ada. Antusiasmenya juga lumayan, bahkan kualitasnya meningkat,” ucapnya.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, bengkel-bengkel modifikasi, modifikator independen, hingga pekerja umum. Namun, mayoritas masih berasal dari tiga kecamatan pesisir tersebut.
“Kebanyakan memang dari Muara Jawa, Samboja, dan Sanga-Sanga. Harapan kami ke depan mereka bisa berani tampil di Samarinda atau Balikpapan supaya wawasannya makin luas,” kata Yudi.
Dari sisi kualitas, panitia menilai terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Dibandingkan seri pertama, motor-motor yang tampil pada seri kedua dinilai lebih matang dari sisi konsep dan pengerjaan.
“Kalau kami lihat, perkembangannya luar biasa. Dari seri satu ke seri dua, pemahaman modifikasinya sudah jauh lebih baik,” ujarnya.
Kegiatan ini juga didukung oleh pemanfaatan fasilitas publik. Lapangan Sudirman, yang merupakan fasilitas pemerintah, digunakan sebagai lokasi kontes dan dapat dimanfaatkan secara gratis.
“Untuk dukungan pemerintah, alhamdulillah cukup membantu, terutama penyediaan lapangan. Itu sangat mendukung kegiatan seperti ini,” kata Yudi.
Dengan berakhirnya seri kedua, Muara Jawa Modification Contest dinilai telah menjadi ruang awal pembinaan komunitas modifikasi di kawasan pesisir Kutai Kartanegara.
Panitia berharap model kegiatan berjenjang ini dapat terus berlanjut, seiring meningkatnya minat dan kualitas modifikator lokal yang mulai berani menampilkan karyanya secara terbuka dan tertib. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo