Apa Itu Stevia? Pemanis Alami dari Daun, 300 Kali Lebih Manis dari Gula, Ini Manfaat dan Polemiknya

KALTIMPOST.ID, Stevia belakangan menjadi perbincangan setelah muncul polemik mengenai dugaan kandungan pemanis buatan dalam produk yang dipasarkan dengan klaim menggunakan stevia murni.
Persoalan ini memunculkan pertanyaan mengenai apa sebenarnya stevia, bagaimana proses pengolahannya, serta apa keunggulannya dibandingkan gula biasa.
Apa Itu Stevia?
Stevia merupakan pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana, yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan, khususnya Paraguay dan Brasil.
Baca Juga: Apa Itu Dry Ice? Pelet Bersuhu Ekstrem Pengurai Asap Karhutla, Cara Kerja dan Bedanya dengan Batu Es
Dilansir dari Halodoc, masyarakat di kedua negara tersebut telah lama memanfaatkan daunnya sebagai bahan pemanis.
Rasa manis stevia berasal dari senyawa glikosida steviol, terutama stevioside dan rebaudioside, yang tingkat kemanisannya dapat mencapai 200 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula pasir.
Bagaimana Stevia Diolah?
Untuk menghasilkan pemanis siap pakai, daun stevia harus melalui proses ekstraksi. Mengutip Cleveland Clinic, prosesnya menyerupai penyeduhan teh, yakni menggunakan air untuk mengambil senyawa pemanis dari daun.
Cairan hasil ekstraksi kemudian dimurnikan dan dikeringkan hingga menjadi bubuk atau diolah menjadi pemanis dalam bentuk lain.
Produk stevia di pasaran juga dapat mengandung bahan tambahan, sehingga tidak semuanya berupa ekstrak stevia murni.
Manfaat Stevia sebagai Pengganti Gula
Salah satu alasan stevia populer adalah kandungan kalorinya yang sangat rendah. Pemanis ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula, termasuk penderita diabetes.
Dilansir dari Health, stevia tidak mengandung karbohidrat seperti gula biasa sehingga penggunaannya tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara langsung sebagaimana konsumsi gula.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi senyawa stevia dalam membantu pengaturan gula darah dan sensitivitas insulin, meskipun tidak dapat menggantikan pengobatan diabetes.
Selain itu, stevia juga diteliti karena potensinya terhadap kesehatan jantung. Dilansir dari Medical News Today, beberapa glikosida dalam stevia berpotensi membantu melebarkan pembuluh darah serta meningkatkan pengeluaran natrium melalui urine.
Penelitian pada 2003 turut menunjukkan kemungkinan efek kardiotonik yang berkaitan dengan pengaturan tekanan darah dan detak jantung.
Namun, manfaat tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan dan belum dapat dijadikan dasar pengobatan hipertensi.
Stevia juga berpotensi membantu menjaga kesehatan gigi. Berbeda dengan gula yang dapat dimanfaatkan bakteri di dalam mulut untuk menghasilkan asam perusak enamel, ekstrak stevia tidak memberikan sumber makanan yang sama bagi bakteri tersebut.
Meski demikian, penggunaannya tetap perlu memperhatikan komposisi produk. Beberapa pemanis stevia dapat dicampur dengan gula alkohol seperti sorbitol dan xylitol yang berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan pada orang tertentu.
Efek Samping dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Di balik sejumlah keunggulannya, stevia bukan berarti sepenuhnya bebas dari risiko. Beberapa penelitian mengaitkan pemanis rendah kalori dengan kemungkinan perubahan keseimbangan bakteri baik dalam usus, meskipun dampak jangka panjangnya masih perlu diteliti.
Pengguna obat diabetes maupun tekanan darah juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengubah pola konsumsi pemanis secara signifikan.
Polemik Stevia Mengandung Pemanis Buatan
Popularitas stevia sebagai pemanis alternatif kini turut disorot setelah muncul polemik produk Beeru Stevia.
Persoalan bermula ketika influencer Dokter Detektif (Doktif) membagikan hasil pengujian laboratorium yang disebut menemukan kandungan pemanis buatan sukralosa dan neotam.
Temuan tersebut dipersoalkan karena produk dipasarkan dengan klaim stevia murni, sementara kedua bahan itu disebut tidak tercantum dalam daftar komposisinya.
Berdasarkan dokumen hasil pengujian yang ditampilkan Doktif, sampel Beeru Stevia memiliki kandungan karbohidrat 47,21 persen dan energi total 188,84 kilokalori per 100 gram.
Pengujian tersebut juga menunjukkan kandungan sukralosa sebesar 101.297,89 miligram per liter dan neotam sebesar 5.280,99 miligram per liter.
"Kalian lihat, ada neotam dan sukralosa. Itu adalah pemanis buatan. Sementara di komposisinya tidak tertulis neotam dan sukralosa," katanya. Doktif turut mempertanyakan klaim nol kalori produk tersebut berdasarkan hasil pengujian yang dibagikannya.
Polemik ini menjadi pengingat bahwa stevia sebagai pemanis alami berbeda dengan sukralosa dan neotam yang merupakan pemanis buatan.
Klaim menggunakan stevia atau rendah kalori tidak otomatis menjamin suatu produk hanya mengandung ekstrak stevia.
Karena itu, konsumen perlu mencermati daftar komposisi, informasi nilai gizi, serta izin edar BPOM sebelum membeli.
Kesamaan nama atau klaim pada kemasan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kualitas dan kandungan pemanis yang dikonsumsi. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


