Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Asa Datang, Hati Pun Terang

Duito Susanto • Minggu, 26 Mei 2024 | 09:07 WIB

La speranza arriva, e il nostro cuore diventa luminoso


Oleh: Sultan Musa

“Menulislah, dan biarkan tulisanmu mengikuti takdirnya.”
Buya Hamka


Energi dan gairah nasihat di atas telah mengajarkanku untuk terus menulis dan berkarya lewat puisi. Mengumandangkan jalan kedamaian dan memaknai khazanah ruang-ruang aksara. Tetap tekun dan bersedia mengasah semua saran dan masukan menjadi motivasi.
Semua karya tulis, termasuk puisi, pada intinya bermanfaat. Diapresiasi atau tidak, biarlah nasib tulisan itu yang akan berbicara. Membuat tulisan yang bernas, bagus, serta menarik memang tidak mudah. Apalagi puisi, ibarat hasil komtemplasi yang lahir dari rahim pemikiran sang penulis. Bila memasuki kedalaman akarnya, sebuah karya puisi akan membawa surataan takdirnya masing-masing.
Hal ini yang terjadi pada karya puisi yang saya tulis berjudul Hadirku Mewakili Peluk dan Senyum.


bila segenap pelukan,
tak mampu menuliskan waktu dan detik

bila seringai senyuman,
tak mampu mendayungkan samudera dan laut

; biarlah hadirku menggariskan kebaikan di taman kehidupan
sambil berkata
‘asa datang, hati pun terang’
-2024


Dalam versi bahasa Italia sebagai berikut;

La Mia Presenz E’ Un Enorme Sorriso

come quando tutti si abbracciano,
è impossibile descrivere il tempo e i secondi

quando ridi,
come incapace di remare negli oceani e nei mari

; lascia che la mia presenza delinei la bontà nel giardino della vita
mentre dico
'la speranza arriva, e il nostro cuore diventa luminoso'
-2024

Puisi yang saya tulis pada awal 2024 ini, siapa sangka terpilih pada "Challenge Heart and Art for Change" yang digagas oleh Dr Claudia Amoruso, seorang psychologist & psychotherapist. Melalui proses kurasi panjang yang dilakukan bersama tim dari Vite Inceppate-Italia, sebuah lembaga sosial kemanusiaan yang berdedikasi untuk kesehatan mental.
Sungguh apresiasi mendalam ketika mendapat kabar bahwa puisi yang saya tulis tersebut terpilih dan akan diterjemahkan ke dalam versi Bahasa Italia serta Bahasa Inggris. Tak hanya itu puisi tersebut akan dipresentasikan pada Collegno Fòl Fest 2024 di Turin, Italia.
Terpilihnya puisi itu karena ada pesan yang mendalam, yang menurut mereka sangat mendukung semangat melawan stigma terhadap ketidaknyamanan dan penyakit mental serta untuk meningkatkan kesadaran bagi kita masing-masing. Bait pesan tersebut adalah 'la speranza arriva, e il nostro cuore diventa luminoso' (hope comes and the heart becomes bright).
Adapun penyelenggaraan Collegno Fòl Fest 2024 tahun ini, yang esensinya terangkum dalam frasa “non esistono santi di mente” (tidak ada orang suci mental), yang ditulis oleh seorang pasien di dinding salah satu paviliun di rumah sakit Collegno, memberikan penghormatan kepada seorang revolusioner di bidang medis psikiater yang memprotes Enrico Pascal yang juga seorang pendukung untuk mengatasi rumah sakit dan salah satu pendiri Pusat Kesehatan Jiwa pertama di wilayah Turin antara tahun 1960-an dan 1990-an.
Collegno Fol Fest 2024 sendiri berlangsung selama delapan hari dari 12-19 Mei 2024. Uniknya event ini berlangsung menyulap paviliun-paviliun bekas rumah sakit di Taman Certosa Reale-Collegno. Dari alih ruang kuno menjadi ruang kreativitas, ekspresi artistik pertunjukan pameran serta pertunjukan seni. Juga ada pusat diskusi antar profesional dan kajian literatur.
Acara yang sepenuhnya gratis ini untuk mendapatkan informasi lebih detail bisa mengakses lewat laman www.collegnofolfest.it. Collegno Fòl Fest dirancang dan dipromosikan oleh Kota Collegno, Keluarga AslTo3-Dymphna, Arci Valle Susa-Pinerolo, Cooperativa Il Margine/Orto che cura, dan Lavanderia a Vapore/Piemonte dal Vivo, dengan dukungan dari program budaya dari Universitas Turin.
Sebelumnya panitia Collegno Fol Fest 2024 telah melakukan submisi terbuka untuk menyaring hingga akhirnya ada sekitar 70 agenda yang merupakan hasil seleksi proposal tersebut. Yang mana submisi terbuka tersebut dilakukan sejak 10 Januari 2024 hingga 10 Februari 2024 di Italia.
TENTANG KOTA TURIN
Kota yang terletak di kaki Pegunungan Alpen ini memiliki sejarah panjang dan bangunan dengan arsitektur mengagumkan. Terkenal sebagai pusat industri dan desain kontemporer di Italia. Tidak heran banyak museum dengan koleksi menarik. Jadi tidak hanya bisa menikmati keindahan alam tapi kekayaan seni dan budayanya sekaligus.
Fakta menarik dari kota ini, Turin pernah menjadi ibu kota Kerajaan Sadinia, kemudian menjadi ibu kota pertama Unified Italy atau pada 1861, bisa disebut ibu kota pertama Italia bersatu pada 1861. Wilayah ini tumbuh menjadi salah satu pusat kekuasaan industri baru negara yang menarik bagi migran di seluruh penjuru negeri.
Turin menjadi pusat industri otomotif Italia paling awal kemudian diikuti oleh pabrik tekstil dan mekanik. Sejak saat itu, Turin mencapai kemakuran dan kemajuan dalam industri, perdagangan, dan budaya. Dan sempat mengalami krisis parah pada 1980-an yang mengakibatkan kehilangan sebagian besar penduduknya. Pernah pula menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada 2006 yang memberikan dorongan untuk perekonomian dan infrastruktur transportasi.
Turin juga menjadi "rumah" bagi Museum Sinema Nasional yang terletak di Mole Antonelliana, bangunan abad ke-19 yang megah dan paling terkenal. Dari bagian gedung tersebut dengan sudut 360 derajat dapat melihat pemandangan kota dan menikmati koleksi film-filmnya.
Tak hanya itu Turin pun mendapat julukan sebagai tempat "kelahiran" cokelat padat. Sebutan untuk cokelat khas yang diproduksi oleh perusahaan cokelat Turin yakni Gianduiotto. Hingga saat ini selalu menyelenggarakan festival cokelat selama dua minggu setiap tahunnya, festival tersebut bernama Cioccolato.
Ada banyak bangunan terkenal berarsitektur Renaissance, Baroque, Rocco, Neo-klasik, dan Art Nouveau yang merupakan sisa kejayaan Turin masih bisa dinikmati pada era modern saat ini. Seperti Istana Kerajaan Savoy termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO dan Katedral St Yohanes Pembaptis yang menjadi tempat kain kafan suci diawetkan sejak 1578, yang sayang untuk dilewatkan bila berkunjung ke Turin.
Ada pula Gedung Lingotto yang pernah menjadi pabrik mobil terbesar di dunia, kini berubah menjadi pusat konvensi, gedung konser, galeri seni, dan pusat perbelanjaan.
Terlepas dari itu semua kebanggaan yang tak terhingga saya rasakan dari karya puisi yang saya tulis tersebut terpilih berpartipasi dalam event di Turin Italia. Bisa jadi ini adalah salah satu jalan memaknai proses "bertumbuh" yakni dengan mencoba hidup dalam sebuah momentum dan memberikannya arti, untuk tidak pernah berhenti “tumbuh” dalam berkarya. Menulislah, menulislah, dan terus menulislah. (dwi)

Pemberitahuan resmi dari penyelenggara Challenge Heart and Art for Change.
Pemberitahuan resmi dari penyelenggara Challenge Heart and Art for Change.
 

 

 

Editor : Duito Susanto
#italia #puisi #samarinda