KALTIMPOST.ID, Mimpi merupakan pengalaman bawah sadar yang terkadang gambaran visualnya terlihat nyata dan tetap teringat jelas meski sudah terbangun.
Banyak yang akhirnya mencari tahu arti makna mimpi karena penasaran, bahkan berkeyakinan bahwa itu adalah petunjuk.
Untuk mengetahuinya, ada dua sudut pandang yang patut dijadikan acuan. Yaitu dari sisi psikolog dan agama. Dalam agama Islam, mimpi digolongkan dalam 3 jenis, yaitu:
1. Mimpi yang Baik (ru’ya shalihah hasanah)
Adalah mimpi yang datangnya dari Allah Ta’ala. Mimpi ini memiliki beberapa ciri. Yaitu, hal yang dimimpikan merupakan sesuatu yang ia sukai, serta memberikan rasa semangat dan gembira saat bangun tidur, contohnya mimpi masuk syurga dan pergi ke Makkah.
2. Mimpi Buruk (ru’ya makruhah)
Adalah mimpi yang datang dari setan. Salah satu tandanya, saat mengalami mimpi ini sering merasa gelisah atau ketakutan. Seringkali juga diisyaratkan dengan adanya hewan seperti ular, tikus, kalajengking, anjing, liar, dan cicak.
3. Mimpi Biasa (bunga tidur)
Mimpi ini tidak memiliki maksud apapun. Umumnya hanya bisikan jiwa atau suatu pikiran alam bawah sadar yang terus dipikirkan hingga terbawa dalam tidur, seperti setelah menonton film.
Mimpi Mengenai Syariat Agama Hanya oleh Nabi dan Rosul
Berdasarkan teologi Islam, mimpi baik bisa menjadi petunjuk atau perantara dari Allah SWT. Salah satunya yang terdapat dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim as melihat mimpi.
Allah berfiman, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS 37:102)
Namun, menurut Ustadz Ahmad Sarwat Lc di laman rumahfiqih.com, tidak semua mimpi adalah petunjuk. Terlebih, bila mimpi tersebut terkait syariat agama. Terkecuali mimpinya para nabi dan Rasul.
Bahkan pada zaman Rasul, ketika sebagian sahabat bermimpi tentang syariat azan, mereka tidak berani langsung menyimpulkan bahwa mimpi tersebut adalah petunjuk dari Allah SWT. Mereka bertanya dulu kepada Rasulullah SAW. Setelah beliau membenarkan, barulah dapat dinyatakan bahwa mimpi tersebut petunjuk dari Allah SWT.
Mimpi Bisa Jadi Petunjuk jika Sesuai dengan Syariat dan Akal Sehat
Sementara itu, jika mimpi terjadi pada manusia biasa yang tidak berkaitan dengan syariat agama dan tidak bertentangan dengan akal sehat, umumnya boleh saja dibenarkan.
Namun, bila bertentangan dengan syariat dan akal sehat tentu itu mimpi penyesat dari setan. Sebagai contoh, seseorang bermimpi mendapatkan jodoh namun berbeda agama, tentu mimpi tersebut bukanlah petunjuk.
Selain dari sisi agama, mimpi dapat dilihat dari sudut pandang psikolog. Apakah mungkin mimpi seseorang bisa dijadikan petunjuk untuk masa depan?
Mimpi dalam Ilmu Psikologi
Mimpi adalah pengalaman mental yang melibatkan rangkaian gambar, suara, emosi, dan sensasi yang terjadi ketika tidur. Saat tidur, otak tetap aktif dan menghasilkan aktivitas tidur rapid eye movement.
Tidur REM dikenal sebagai fase tidur di mana mimpi paling sering terjadi. Selama tidur REM, terjadi gerakan cepat mata, aktivitas otak yang intens, dan penurunan tonus otot yang signifikan.
Penafsiran Mimpi Menurut Psikolog
Beberapa orang tertarik untuk mencari makna dari pengalaman mimpi mereka. Pasalnya, melalui tafsir mimpi dapat memberikan wawasan tambahan tentang emosional, kekhawatiran tersembunyi, dan aspirasi seseorang.
Namun, perlu diingat bahwa sering kali mimpi penuh dengan simbolisme dan konteks pribadi. Ini akan membuat makna mimpi sangat bervariasi antara satu individu dengan yang lain.
Yang terpenting, penafsiran mimpi tidak boleh digunakan sebagai alat diagnostik atau prediksi masa depan.
Editor : Almasrifah