Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Timun Suri Selalu Ada saat Puasa, Tapi Kemana Perginya setelah Ramadhan?

Dwi Puspitarini • Senin, 10 Maret 2025 | 09:07 WIB
Timun suri, buah segar yang selalu dinanti saat puasa tiba. Namun, setelah Ramadhan, buah ini seolah menghilang dari pasaran.
Timun suri, buah segar yang selalu dinanti saat puasa tiba. Namun, setelah Ramadhan, buah ini seolah menghilang dari pasaran.

 

KALTIMPOST.ID, Setiap bulan Ramadhan, pasar-pasar dan pedagang kaki lima selalu dipenuhi dengan timun suri.

Buah ini jadi primadona untuk berbuka puasa karena menyegarkan dan kaya akan air.

Namun, di luar bulan suci, timun suri seakan menghilang dari peredaran. Apakah ini buah musiman? Atau ada alasan lain yang lebih menarik?

Ternyata, ada strategi cerdas di balik kemunculan timun suri yang hanya saat Ramadhan. Simak faktanya di bawah ini!

 Baca Juga: Pakai Minyak Angin saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Jawaban Ulama!

Banyak yang mengira timun suri adalah buah musiman, seperti durian atau mangga, yang hanya tumbuh pada waktu tertentu.

Faktanya, timun suri bisa ditanam kapan saja! Namun, petani memilih untuk menanamnya sekitar dua hingga tiga bulan sebelum Ramadhan, sehingga panennya bertepatan dengan bulan puasa.

Kenapa? Karena permintaan timun suri melonjak drastis saat Ramadhan. Jika dijual di bulan lain, buah ini tidak begitu laris dan petani bisa merugi.

Timun suri memiliki tekstur lembut dan kadar air yang tinggi, menjadikannya pilihan favorit untuk berbuka puasa.

 Baca Juga: Menangis saat Puasa, Batal atau Justru Berpahala? Ini Penjelasannya!

Banyak orang mencampurnya dengan sirup, susu kental manis, atau es batu sebagai minuman penyegar setelah seharian berpuasa.

Karena tingginya permintaan, harga timun suri pun lebih stabil saat Ramadhan. Inilah yang membuat petani dan pedagang lebih memilih menjualnya hanya saat bulan puasa, daripada sepanjang tahun.

Salah satu alasan utama timun suri jarang ditemukan di luar Ramadhan adalah daya tahannya yang singkat.

Dibandingkan buah lain seperti semangka atau melon, timun suri lebih cepat membusuk setelah dipanen.

Jika tidak segera dikonsumsi atau dijual, buah ini akan rusak dalam beberapa hari saja.

Karena itulah, petani dan pedagang hanya menanam dan menjualnya saat mereka yakin permintaan tinggi.

Dengan begitu, mereka bisa menghindari kerugian akibat buah yang membusuk.

Jadi, kemunculan timun suri setiap Ramadhan bukanlah keajaiban atau fenomena alam, melainkan hasil dari strategi petani dan pedagang.

Mereka menyesuaikan waktu panen dengan lonjakan permintaan agar buah ini selalu laku di pasaran. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#berbuka puasa #timun suri #fenomena timun suri #permintaan pasar #ramadhan #buah musiman