KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Gurihnya nastar dan manisnya putri salju memang selalu jadi primadona di atas meja saat perayaan Idulfitri. Namun, di balik kelezatannya, camilan khas Lebaran ini menyimpan bom kalori yang cukup tinggi. Jika tidak dikontrol, tumpukan kalori ini bisa memicu masalah kesehatan pasca-hari raya.
Menanggapi hal ini, duet dietisien dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Mutia Nur Amalina dan Pratiwi Dinia Sari, mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam membatasi asupan makanan tinggi lemak dan gula.
Maksimal 5 Keping Sehari
Menurut mereka, pengendalian diri adalah kunci utama agar tidak "balas dendam" saat menyantap hidangan Lebaran. Idealnya, konsumsi kue kering tidak boleh mendominasi porsi makan harian.
"Batasi konsumsi minuman manis atau kemasan maksimal satu kali sehari. Untuk kue kering, porsinya sebaiknya hanya 10 hingga 20 persen dari total kalori harian, atau setara maksimal 5 keping saja dalam sehari," jelas mereka melalui laman resmi UGM, Minggu (22/3).
Trik Piring Kecil dan Serat
Agar tidak kalap saat bertamu atau menjamu kerabat, kedua pakar nutrisi ini membagikan beberapa tips praktis yang bisa diterapkan warga:
Gunakan Piring Kecil: Trik psikologis ini efektif menjaga porsi makan agar tetap terjaga dan tidak berlebihan.
Andalkan Serat: Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Serat memberikan efek kenyang lebih lama sehingga nafsu makan lebih terkendali.
Sediakan Buah Segar: Mengganti sebagian camilan di meja tamu dengan potongan buah segar adalah pilihan cerdas untuk menyeimbangkan hidangan berlemak.
Manfaat Serat untuk Kolesterol
Lebih lanjut, Mutia dan Pratiwi menjelaskan bahwa serat bukan sekadar pengganjal perut. Perannya sangat krusial dalam menjaga stabilitas tubuh setelah mengonsumsi makanan khas Lebaran yang biasanya kaya santan dan gula.
"Serat makanan mampu mengikat kelebihan glukosa serta kolesterol. Hal ini membantu mengurangi penyerapan kolesterol dalam darah sehingga risiko kesehatan bisa ditekan," tegas mereka.
Dengan menjaga pola makan yang seimbang, momen kemenangan Idulfitri bisa dirayakan dengan sukacita tanpa harus dihantui keluhan kesehatan di kemudian hari.(*)
Editor : Thomas Priyandoko