
KALTIMPOST.ID, DOHA - Gelaran MotoGP Qatar 2026 kembali diliputi ketidakpastian. Meskipun jadwal balapan sudah ditetapkan pada 6 hingga 8 November, para pembalap mulai menyuarakan keraguan terkait faktor keamanan di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran tersebut mencuat dalam pertemuan tertutup antar-pembalap saat rangkaian balapan di Phillip Island, Australia, pada 22 Oktober lalu. Berdasarkan laporan internal, mayoritas pembalap menyatakan keberatan untuk bertolak ke Doha dengan alasan keselamatan.
Pembalap Gresini Racing, Alex Marquez, menjadi salah satu pihak yang vokal mengenai situasi tersebut. Menurutnya, kondisi geopolitik saat ini menunjukkan tren yang semakin memburuk dari hari ke hari.
"Setiap hari situasinya berubah, dan setiap hari kondisinya terlihat semakin buruk," kata Alex Marquez.
Senada dengan Alex, pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh sebelum balapan diputuskan untuk tetap berjalan. Baginya, jaminan keselamatan harus menjadi prioritas utama penyelenggara.
"Jika keselamatan kami benar-benar menjadi prioritas, semua aspek harus dipertimbangkan secara matang," ujar Francesco Bagnaia.
Para pembalap menuntut penjelasan rinci mengenai protokol mitigasi jika situasi memburuk di Qatar. Poin utama yang menjadi perhatian adalah skenario evakuasi personel paddock, ketersediaan akomodasi saat penerbangan terganggu, serta langkah darurat jika terjadi penutupan wilayah udara.
Di sisi lain, pihak tim tetap memantau perkembangan situasi melalui komunikasi dengan penyelenggara. Bos tim VR46, Uccio Salucci, mengaku telah menerima jaminan dari pihak otoritas setempat terkait penyelenggaraan balapan.
"Mereka telah memberikan sejumlah jaminan kepada kami," jelas Uccio Salucci. Meski demikian, kepastian keberlangsungan GP Qatar tetap bergantung pada dinamika keamanan di wilayah tersebut menjelang hari pelaksanaan. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





