KALTIMPOST.ID-Pada permulaan bulan Agustus 2025, Indonesia secara resmi memulai pengoperasian sistem rudal balistik jarak pendek, KHAN ITBM-600, yang diakuisisi dari Turki.
Sistem persenjataan mutakhir ini dilaporkan telah ditempatkan di Pangkalan Raipur A, Batalyon Artileri Medan (Armed) ke-18, yang berlokasi di Kalimantan Timur, sejak 1 Agustus 2025.
Menurut laporan dari Asian Military Review pada 15 Agustus 2025, dalam artikel bertajuk "Indonesia luncurkan rudal balistik jarak pendek Khan," ini menandai kali pertama Indonesia memiliki dan memperkenalkan senjata serang presisi jarak jauh semacam ini.
Sesuai dengan Doktrin Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) Indonesia, rudal ini secara spesifik memperkuat kemampuan artileri Angkatan Darat.
Kemampuannya untuk menyerang target, baik di dalam maupun di luar batas wilayah kedaulatan Indonesia, menjadikannya aset pertahanan yang sangat berharga.
Rudal KHAN memiliki jangkauan serang hingga 280 kilometer dan mampu menghantam target dengan akurasi tinggi, yaitu sekitar 10 meter. Akurasi ini dimungkinkan oleh sistem navigasi inersia hibrida terintegrasi yang didukung oleh GPS dan GLONASS.
Keunggulan lain dari rudal ini adalah kemampuannya melakukan manuver mengelak (evasive maneuver) selama fase terminal penyerangan, yang secara efektif menyulitkan musuh untuk melacak dan mencegatnya.
Khan umumnya dipersenjatai dengan hulu ledak berdaya ledak tinggi (High Explosive/HE) atau fragmentasi dengan berat 470 kilogram, meskipun opsi hulu ledak submunisi juga tersedia.
Rudal ini dapat diprogram untuk meledak pada saat benturan (impact detonation) atau dalam mode proksimal (jarak dekat dengan target).
Target yang diincar oleh rudal ini adalah sasaran bernilai tinggi seperti bunker yang diperkuat, pusat komando dan kendali, stasiun radar, sistem pertahanan udara, dan area dukungan logistik musuh.
Menurut media Vietnam, Baomoi.com, dalam artikelnya pada 25 September 2025, yang berjudul "Pergeseran baru dalam peta pertahanan Asia Tenggara," akuisisi KHAN memberikan dimensi strategis baru dalam kerangka doktrin MEF Indonesia.
Peningkatan kemampuan serangan presisi jarak jauh ini memperkuat daya gentar (deterrence) konvensional Indonesia dan memungkinkannya merespons ancaman secara efektif di luar batas wilayah.
Isu integritas wilayah, khususnya kedaulatan atas Papua Barat, menjadi salah satu perhatian utama Jakarta, dan sebagian rencana pertahanan telah terwujud di lapangan.
Rencana untuk memperkuat pangkalan militer dengan radar pesisir dan kamera jarak jauh bertujuan untuk memastikan jangkauan dan kelancaran operasi di wilayah Papua Barat.
Penempatan sistem rudal KHAN di Kalimantan, lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan, sangat mungkin mengindikasikan tujuan strategis yang mendalam.
Khan kemungkinan besar merupakan bagian dari rencana pertahanan berlapis untuk IKN, dibangun di atas fondasi peningkatan kekuatan udara dan laut.
Hal ini juga merespons kebutuhan baru terkait masalah keamanan inti, seperti perbatasan darat yang panjang dengan Malaysia dan keamanan maritim di sekitar Kalimantan (termasuk Selat Makassar).
Rencana pertahanan ibu kota ini sejalan dengan strategi pertahanan nasional Indonesia yang lebih luas, yang menekankan modernisasi angkatan laut dan udara, serta penempatan rudal di titik-titik rawan maritim utama.
Perlu dicatat, dengan karakteristik serangan darat dan jangkauannya yang spesifik, sistem KHAN dioptimalkan untuk menyerang target yang sifatnya statis (tetap).
Oleh karena itu, rudal ini tidak dirancang untuk menghadapi kapal perang yang bergerak. KHAN adalah sistem serangan permukaan-ke-permukaan, berbeda dengan rudal antikapal seperti BrahMos milik Filipina.
Fungsi utamanya adalah menghantam artileri, sistem pertahanan udara, stasiun radar, dan pusat logistik musuh. (*)
Editor : Almasrifah