Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

BNB Crew Tetap Menari di Tengah Duka, Panggung DBL Samarinda Jadi Ruang Perpisahan bagi Sahabat yang Kini Jadi "Bintang"

Nasya Rahaya • Minggu, 8 Februari 2026 | 16:27 WIB

Penampilan BNB Crew SMAN 2 Tenggarong ditutup dengan tribute untuk Nadya Paramitha.
Penampilan BNB Crew SMAN 2 Tenggarong ditutup dengan tribute untuk Nadya Paramitha.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Lampu panggung di GOR Segiri menyala terang, Ahad (8/2). Di balik sorot cahaya itu, tersimpan duka yang belum kering. Namun musik tetap diputar. Langkah kaki tetap menghentak.

BNB Crew SMAN 2 Tenggarong memilih tetap menari. Beberapa hari sebelum Azarine DBL Dance Competition digelar, tim ini kehilangan center dancer mereka, Nadya Paramitha. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada 5 Februari lalu.

Satu dancer utama lainnya, Zahra Nandhita Rahma Firzatullah atau Awa, sempat kritis. Kini kondisinya membaik dan sedang menjalani masa pemulihan.

Baca Juga: Menteri LH Muncul Tiba-tiba di Bontang, Ada Apa dengan Penilaian Adipura?

Kehilangan itu seharusnya cukup untuk membuat mereka berhenti. Namun BNB Crew memilih jalan lain.

Dari rencana 12 penari, hanya 10 yang akhirnya berdiri di atas panggung. Mereka adalah Rara, Nares, Aqila, Nindy, Rahma, Rezky, Ayu, Dhea, Licia, dan Klarisa.

Pertunjukan dibuka dengan bomber jacket putih. Gerakan tegas, tatapan fokus. Satu per satu formasi berganti, diiringi perubahan kostum dengan warna silver, oranye, kuning, dan hijau.

Kepangan rambut dengan lampu kecil berpendar menambah kesan futuristik. Visualnya segar, energinya terasa penuh, seolah tak ada ruang kosong di atas panggung.

Padahal dua peran kunci absen. Di bagian akhir, suasana mendadak berubah hening. Suara Nadya terdengar mengalun dari pengeras suara.

Keluarga mendiang Nadya Paramitha hadir di GOR Segiri Samarinda.
Keluarga mendiang Nadya Paramitha hadir di GOR Segiri Samarinda.

“This is BNB, we shine like a star.”

Kalimat itu bukan sekadar penutup. Ia menjelma menjadi salam perpisahan. Banyak pasang mata yang terdiam, menahan haru.

Coach BNB Crew, Fey, mengakui perjalanan menuju DBL tahun ini sangat berat. Timnya mengikuti belasan acara demi mengumpulkan dana agar bisa tampil maksimal.

Nadya dan Awa memegang peran penting sebagai center dancer. DBL tahun ini bahkan menjadi pengalaman pertama Nadya. Sebelumnya, ia dikenal sebagai penari tradisional.

Fey melihat sesuatu yang berbeda pada Nadya. Ia cepat belajar, penuh semangat, dan selalu membawa energi positif. “Dia paling semangat, paling tulus. Senyumnya juga tulus. Orangnya baik sekali,” kenang Fey.

Baca Juga: Bertabur Berlian Rp 252 Miliar, Mariah Carey Pukau Pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026

Kabar duka yang datang mendadak memaksa tim mengubah konsep hanya dalam hitungan hari. Dari format 12 penari menjadi 10. “Persiapannya sangat mepet, tapi mereka bisa tampil maksimal. Saya bangga sekali,” katanya.

Tema yang mereka bawa sederhana, tapi kuat: menjadi diri sendiri untuk bisa bersinar. Pesan itu terasa nyata malam itu. BNB Crew membuktikan bahwa di tengah kehilangan, mereka tetap bisa berdiri. Tetap menari. Tetap bersinar. “Harapannya sebesar bintang di angkasa. Hari ini mereka benar-benar jadi bintang,” ujar Fey. Termasuk satu bintang yang sudah lebih dulu bersinar di langit. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#DBL Samarinda #BNB Crew #GOR Segiri Samarinda #Azarine DBL Dance Competition #SMAN 2 Tenggarong