
Oleh:
Ali Kusno
Widyabasa, Kepakaran Linguistik Forensik
KALTIMPOST.ID-Panggung percakapan publik di Kaltim belakangan ini menyerupai sebuah teater yang penuh ketegangan. Di bawah sorot kamera nasional, Kaltim tiba-tiba muncul sebagai titik episentrum baru bagi pembicaraan politik Tanah Air.
Riuh rendah narasi ini tidak hanya menjadi konsumsi lokal. Kaltim telah menjadi barometer kualitas kepemimpinan pada era transisi menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
Di tengah panggung ini, kita melihat tokoh-tokoh populer yang mahir memainkan emosi publik dan merajai ruang digital. Ada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dengan ketajaman retorika kaum mudanya dan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) dengan kekuatan populisme sosiokulturalnya.
Nama pimpinan Kaltim kini meresonansi dengan frekuensi yang setara dengan figur-figur nasional tersebut. Namun, secara linguistik forensik, sebuah paradoks sosiolinguistik sedang terjadi.
Jika Sherly dan KDM mahir membangun citra protagonis, pimpinan kita justru terjebak dalam sudut antagonis akibat rentetan pilihan diksi yang memicu kontroversi. Meski permohonan maaf telah disampaikan secara terbuka sehubungan dengan kegaduhan yang terjadi, publik seolah menanggapinya dengan skeptisisme.
Maaf tersebut bahkan dianggap “setengah hati” oleh sejumlah kalangan legislatif karena dinilai gagal menyentuh substansi etika komunikasi yang diharapkan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





