Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melawan Doktrin “Sontoloyo” Kiai Palsu

M
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Bagaimana jadinya jika seseorang yang dianggap figur sentral berubah menjadi predator yang menodai anak-anak kita? Agama dijadikan kedok untuk memuaskan dahaga biologisnya. Anak-anak di bawah umur didoktrin dan dimanipulasi hanya untuk melancarkan aksi bejatnya. 

Relasi kuasa yang tak berimbang nyatanya bisa berakibat fatal. Seperti yang telah dialami puluhan santriwati yang dikabarkan menjadi korban kekerasan seksual oleh Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Advertisement

Kita pun mengelus dada dan mengecam tindakan amoral tersebut. Bukan hanya merusak marwah kiai dan pesantren, Ashari telah membuat korbannya mengalami trauma dan tekanan psikis tentunya.

Kasus tersebut, tentu saja bukan yang pertama kalinya. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2020-2024, kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan berbasis agama Islam menempati urutan kedua yakni sebanyak 17 kasus (17,52%).

Advertisement

Bisa jadi jumlahnya melebihi angka tersebut mengingat sebagian korban kadang takut untuk melaporkan sebab diancam dan diintimidasi oleh pihak-pihak tertentu. Dengan beragam alasan, seperti halnya demi menjaga nama baik sang kiai, gus, ustad, yang kebetulan menjadi tersangka.

Atau bisa jadi dengan alasan ingin menjaga marwah institusi agar tidak jeblok. Entahlah, saya tidak habis pikir, orang-orang tersebut memiliki rasionalisasi semacam itu tanpa mempertimbangkan nasib dan masa depan korban.

Jika mengacu pada perspektif kriminologi, fenomena kekerasan seksual di pesantren dapat dianalisis menggunakan teori Power and Control dari Michel Foucault, ahli ilmu sosial dan sekaligus filsuf Prancis. Ia mengkonseptualisasikan bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga produktif, tersebar melalui jaringan dan dapat membentuk perilaku individu dalam kerangka institusional.

Dalam konteks pesantren, relasi kuasa antara kiai dan santri bersifat asimetris. Kiai mempunyai otoritas yang dilegitimasi oleh tradisi, agama, dan struktur sosial (Achmadin et al., 2024).

Sebagai tokoh sentral di pesantren, kiai menjadi rujukan utama bagi semua santri, pengurus, dan ustad di pesantren. Gerak-geriknya, tutur katanya, dan kepribadiannya menjadi teladan bagi setiap santri yang menimba ilmu di dalamnya. Kiai dianggap sebagai sosok yang kharismatik yang tidak hanya berperan mengajari ilmu-ilmu agama.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Inilah Tampang Ashari, Tersangka Pencabulan 50 Santriwati di Pati yang Kini Ditangkap, Sempat Kabur ke Sejumlah Daerah

Inilah Tampang Ashari, Tersangka Pencabulan 50 Santriwati di Pati yang Kini Ditangkap, Sempat Kabur ke Sejumlah Daerah

Tampang Ashari, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang mencabuli 50 santriwati.

Tampang Kiai Ashari saat Ditangkap di Wonogiri, Kabur setelah Ditetapkan Tersangka Dugaan Pelecehan 50 Santriwati

Tampang Kiai Ashari saat Ditangkap di Wonogiri, Kabur setelah Ditetapkan Tersangka Dugaan Pelecehan 50 Santriwati

Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Pati, ditangkap polisi terkait dugaan pelecehan seksual puluhan santriwati.

Kesal Tak Diberi Uang, Pemuda di Pati Nekat Bakar Rumah Orang Tua

Kesal Tak Diberi Uang, Pemuda di Pati Nekat Bakar Rumah Orang Tua

Aksi nekat ini diduga dipicu rasa kesal karena permintaannya meminta sejumlah uang ditolak oleh sang ayah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer