Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjaga Perut Rakyat, Menjaga Balikpapan

R
Penulis: Redaksi❯
Tonny Hartono SKM MAP, Kabid Teknologi Sumber Daya Industri DKUMKMP Balikpapan
Tonny Hartono SKM MAP, Kabid Teknologi Sumber Daya Industri DKUMKMP Balikpapan

Advertisement

Catatan Tonny Hartono SKM MAP, Kabid Teknologi Sumber Daya Industri DKUMKMP Balikpapan

KALTIMPOST.ID - Di tengah gejolak dunia yang semakin sulit diprediksi, satu hal yang pasti dirasakan langsung oleh masyarakat. Bukanlah perang, diplomasi atau perundingan internasional, melainkan harga kebutuhan pokok di pasar.

Ketika konflik terjadi di Timur Tengah, ketika harga minyak dunia naik akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat, dampaknya cepat atau lambat akan sampai ke dapur masyarakat Indonesia. Ongkos transportasi naik, biaya distribusi meningkat, harga pangan terdorong naik dan daya beli masyarakat mulai tertekan.

Advertisement

Bagi sebagian orang, konflik tersebut mungkin terasa jauh. Namun bagi ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar, bagi pedagang kecil yang harus membeli bahan baku atau bagi pekerja yang penghasilannya tetap sementara harga kebutuhan meningkat, dampaknya terasa sangat nyata.

Karena itulah, menjaga stabilitas ekonomi daerah sesungguhnya bukan hanya persoalan angka dan statistik. Ini adalah persoalan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan daerah.

Advertisement

KETAHANAN BANGSA DIMULAI DARI PERUT RAKYAT

Psikolog terkenal, Abraham Maslow, menjelaskan bahwa kebutuhan paling dasar manusia adalah kebutuhan fisiologis, yaitu makan, minum, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Sebelum seseorang memikirkan pendidikan, prestasi, politik, bahkan nasionalisme, yang pertama kali dipikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya.

Artinya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, urusan perut rakyat adalah urusan yang paling utama. Tidak ada stabilitas yang dapat bertahan lama apabila masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Tidak ada ketahanan daerah yang kokoh apabila daya beli masyarakat terus menurun. Dan tidak ada ketahanan nasional yang kuat apabila ekonomi rakyat rapuh.

Sejarah Indonesia telah membuktikannya. Krisis ekonomi tahun 1998 bukan hanya menyebabkan kesulitan ekonomi, tetapi juga memicu gejolak sosial dan politik yang berdampak luas terhadap kehidupan bangsa. Pelajaran tersebut tetap relevan hingga hari ini: ketika ekonomi terganggu, stabilitas sosial ikut terancam.

BALIKPAPAN DAN TANTANGAN DI ERA IKN

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mahasiswa Tolak Bubar dari DPRD Balikpapan, Desak Wali Kota Rahmad Mas’ud dan Ketua DPRD Temui Massa, Janjikan Audiensi Kamis

Mahasiswa Tolak Bubar dari DPRD Balikpapan, Desak Wali Kota Rahmad Mas’ud dan Ketua DPRD Temui Massa, Janjikan Audiensi Kamis

Massa Aliansi Balikpapan Bergerak bertahan di DPRD. Mereka menuntut Wali Kota dan Ketua DPRD hadir memberi solusi langsung.

Ketua DPRD Balikpapan Absen Demo, Janjikan Pertemuan Hari Kamis

Ketua DPRD Balikpapan Absen Demo, Janjikan Pertemuan Hari Kamis

Massa demonstran dari Aliansi Balikpapan Bergerak menolak mundur dari kantor DPRD. Massa menuntut wali kota dan ketua DPRD temui mereka

Mulai Dibuka, Disdikbud Balikpapan Batasi Kuota Antrean Verval SPMB 500 Orang per Hari

Mulai Dibuka, Disdikbud Balikpapan Batasi Kuota Antrean Verval SPMB 500 Orang per Hari

Disdikbud Balikpapan resmi memulai tahapan pengambilan nomor antrean verifikasi dan validasi (verval) untuk SPMB 2026/2027.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer