
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Beberapa hari lalu saya dibuat terpingkal-pingkal menonton video parodi beberapa influencer di Instagram yang menyindir pemerintah seputar militerisasi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Mulai dari latihan yel-yel, baris-berbaris, menembak, hingga penyamaran menjadi bahan lelucon mereka. Kritik yang dibalut dengan humor sepertinya menjadi senjata yang cukup ampuh untuk menyadarkan pihak yang dikritik.
Persoalannya, apakah yang bersangkutan menonton? Atau, jika mereka menonton, apakah sadar kalau sedang dijadikan bahan lawakan? Kalau sadar, adakah iktikad baik untuk berbenah? Entahlah, sejumlah pertanyaan terus-menerus menghujam alam pikiran saya. Yang jelas, saya terhibur menyaksikan video-video satire yang berseliweran di laman media sosial saya itu.
Lebih lanjut, Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) yang digelar oleh pemerintah melalui Kementerian Pertahanan menjadi sorotan sebab dinilai tidak relevan dengan tugas, peran, dan tanggung jawab calon manajer KDMP. Sebagian pengamat, aktivis, dan tokoh publik mulai bersuara keras bahwa Latsarmil sebaiknya dihentikan dan diganti dengan kegiatan lain yang sesuai dengan tugas pokok calon manajer KDMP.
Apalagi, hingga tulisan ini dibuat, sudah ada lima peserta yang meninggal dunia selama mengikuti Latsarmil. Hal tersebut menjadi alarm keras bagi penanggung jawab utama dan seluruh panitia untuk berbenah secara total. Ditambah lagi, tuntutan publik agar diadakan evaluasi menyeluruh kian masif.
Baca Juga: Catatan Andi Harun; Bhayangkara 80 Tahun: Menjaga Kamtibmas, Merawat Kepercayaan, Mengawal Peradaban
Terus terang saja, saya masih berprasangka positif. Pemerintah mungkin hendak melatih jiwa kepemimpinan, nasionalisme, patriotisme, ketangguhan fisik, integritas, hingga kedisiplinan para calon manajer KDMP. Barangkali maksud dan harapan pemerintah adalah agar para manajer tersebut nantinya mampu bekerja di bawah tekanan, memiliki semangat pengabdian, dan cinta tanah air.
Sebuah harapan yang baik tentunya. Apalagi jika tujuannya agar KDMP bisa berkembang pesat melalui sumber daya manusia (SDM) yang unggul, profesional, terlatih, dan tangguh, tentu patut kita apresiasi bahkan didukung.
Namun, apakah untuk mewujudkan semua itu memang wajib melalui Latsarmil? Bukankah seluruh peserta berlatar belakang sipil yang kekuatan fisiknya tidak seperti personel militer pada umumnya? Apalagi kaum perempuan, terlebih mereka yang kondisi fisiknya rentan atau rawan tumbang.
Pertanyaan lainnya, apakah Latsarmil benar-benar relevan dengan tugas utama calon manajer KDMP? Silakan pikirkan dan pertimbangkan sendiri. Kalau saya pribadi, lebih sepakat jika program tersebut diganti dengan kegiatan lain yang lebih sesuai dengan peran yang akan dijalankan nantinya.
KDMP sebagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto memang bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi desa, menekan angka kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebuah misi yang mulia. Namun, sekali lagi, persoalannya muncul ketika memasuki tahap implementasi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




