
Oleh:
Charli Sitinjak
Akademisi dan Pakar Psikologi Transportasi dan Keselamatan Jalan Raya
KEHADIRAN Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Tol Balsam) menandai babak baru pembangunan infrastruktur di Kalimantan Timur. Jalan bebas hambatan yang menghubungkan dua kota terbesar di provinsi ini berhasil memangkas waktu tempuh menjadi sekitar satu jam, sekaligus meningkatkan konektivitas yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, terlebih dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Bagi banyak pengguna jalan, Tol Balsam menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda. Permukaan jalan yang mulus, jalur yang lebar, serta panorama perbukitan hijau menghadirkan rasa nyaman yang sulit ditemukan di jalan arteri. Namun, justru di balik kenyamanan itu tersimpan risiko yang sering luput dari perhatian. Jalan yang terlalu nyaman dapat menjadi jebakan psikologis yang menurunkan kewaspadaan pengemudi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kecelakaan terjadi di Tol Balsam. Penyebabnya beragam, mulai dari kendaraan yang kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan, hingga tabrakan beruntun. Pembahasan mengenai kecelakaan umumnya berhenti pada faktor teknis, seperti kondisi kendaraan, cuaca, atau kelalaian pengemudi. Padahal, terdapat faktor lain yang sama pentingnya, yakni bagaimana otak manusia merespons lingkungan jalan yang panjang, lurus, sepi, dan monoton.
Ketika Otak Bekerja Secara Otomatis
Dalam psikologi transportasi dikenal istilah highway hypnosis, yaitu kondisi ketika pengemudi tetap mengendalikan kendaraan, tetapi tingkat kesadarannya terhadap lingkungan sekitar mulai menurun. Fenomena ini bukan berarti seseorang benar-benar tertidur, melainkan memasuki keadaan di mana otak bekerja secara otomatis karena minimnya rangsangan yang diterima.
Karakter Tol Balsam sangat memungkinkan kondisi tersebut terjadi. Bentang jalan yang panjang dengan pola pemandangan yang relatif seragam membuat otak menerima stimulus visual yang berulang dalam waktu lama. Ketika hal itu berlangsung terus-menerus, perhatian mulai melemah. Pengemudi masih memegang kemudi, mata tetap mengarah ke depan, tetapi kemampuan mengantisipasi perubahan situasi tidak lagi setajam sebelumnya.
Dalam kondisi seperti itu, waktu reaksi menjadi lebih lambat. Padahal, pada kecepatan 100 kilometer per jam, kendaraan menempuh hampir 28 meter setiap detik. Keterlambatan merespons selama dua hingga tiga detik saja sudah cukup membuat kendaraan melaju puluhan meter tanpa kendali penuh. Jika pada saat yang sama kendaraan di depan mengerem mendadak atau muncul hambatan di jalan, peluang terjadinya kecelakaan meningkat secara signifikan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




