Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lansia Kaltim: Bonus Pembangunan atau Beban Demografi?

R
Penulis: Redaksi KP❯
Noveranus Duma Saro.
Noveranus Duma Saro.

Advertisement

Oleh:

Noveranus Duma Saro

Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Paser

Advertisement

PENUAAN merupakan sebuah proses alamiah dalam fase kehidupan manusia dan bertambah tua adalah salah satu anugerah dari Tuhan bagi kita manusia. Dalam suatu wilayah, banyaknya penduduk yang mencapai usia tua merupakan salah satu indikator tersembunyi yang menunjukkan keberhasilan pembangunan di wilayah tersebut, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup. Namun demikian, fenomena ini juga menghadirkan tantangan baru. Bertambahnya populasi lansia membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang tidak sederhana.

Karena itu, fenomena ageing population atau penuaan penduduk memunculkan pertanyaan penting: apakah penduduk yang menua mampu tetap diberdayakan sebagai modal pembangunan, atau justru menjadi beban demografi akibat kurangnya kesiapan menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut?

Secara formal, merujuk kepada UU No. 13 Tahun 1998, penduduk lanjut usia atau lansia merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Jika menggunakan definisi tersebut, maka Kalimantan Timur sedang memasuki fase penuaan penduduk. Data BPS menunjukkan persentase penduduk lansia di Kaltim terus meningkat, dari 8,21 persen pada tahun 2022 menjadi 9,03 persen pada tahun 2025. Artinya, dari setiap 100 penduduk Kalimantan Timur, ada sekitar 9 orang merupakan penduduk lansia. Adanya peningkatan jumlah penduduk lansia di Kalimantan Timur memberikan isyarat bahwa terdapat perbaikan kualitas pembangunan. Akan tetapi, di sisi lain, bertambahnya populasi usia tua juga berpotensi meningkatkan beban ketergantungan apabila kelompok lansia tidak lagi aktif secara sosial maupun ekonomi. Karena itu, konsep active ageing atau penuaan aktif yang diperkenalkan World Health Organization (WHO) menjadi relevan untuk diperhatikan. Konsep ini menekankan pentingnya mendorong lansia agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Advertisement

WHO mendorong untuk kelompok lansia ini dapat terus berpartisipasi dalam urusan sosial, ekonomi, dan lainnya. Dalam mewujudkan masa tua yang aktif, maka fondasi utama yang diperlukan adalah tingkat kesehatan yang baik. Pada tahun 2025, sekitar 36,36 persen lansia tercatat memiliki keluhan kesehatan. Dengan kata lain, dari setiap 100 lansia terdapat sekitar 36 orang yang mengalami gangguan kesehatan. Selain itu, angka kesakitan lansia mencapai 17,28 persen, yang menunjukkan masih adanya lansia yang aktivitas sehari-harinya terganggu akibat kondisi kesehatan tertentu. Meskipun angka ini relatif lebih rendah dibandingkan provinsi lain, kondisi ini tetap menjadi perhatian. Sebab, kualitas hidup lansia tidak hanya ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi juga oleh kemampuan mereka menjalani hari tua secara sehat dan mandiri tanpa hambatan berarti dalam aktivitas sehari-hari.

Tingkat kesehatan fisik yang baik menjadi satu hal yang sangat penting, sama halnya dengan pendidikan yang memadai. Pendidikan merupakan investasi modal manusia yang berpengaruh terhadap peluang kerja, tingkat pendapatan, hingga kesejahteraan di usia senja. Bagi penduduk lansia saat ini, untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan yang baik mungkin kurang memadai mengingat fasilitas pendidikan di masa lalu yang masih terbatas. Pada tahun 2025, lansia di Kaltim masih didominasi oleh mereka yang memiliki latar pendidikan yang rendah yakni sekitar 27,02 persen lansia tidak tamat SD dan terdapat 4,08 persen lansia yang bahkan tidak pernah sekolah.

Hanya sekitar 17,96 persen saja lansia yang berhasil menamatkan jenjang pendidikan SMA dan pendidikan tinggi. Dominannya penduduk lansia yang berpendidikan rendah mengakibatkan masih rendahnya rata-rata lama sekolah lansia. Hingga pada tahun 2025, angka rata-rata lama sekolah lansia di Kalimantan Timur baru sebesar 6,46 tahun yang berarti secara rata-rata lansia baru pernah bersekolah hanya sampai tamat SD sederajat. Meskipun rata-rata lama sekolah penduduk lansia ini mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, namun masih menyisakan tantangan dalam pemerataan akses pendidikan pada generasi terdahulu.

Rendahnya pendidikan itu kemudian berdampak pada kemampuan beradaptasi di dunia kerja serta memengaruhi kondisi ekonomi ketika memasuki usia lanjut. Ini terlihat dari cukup tingginya persentase lansia yang tetap bekerja. Tahun 2025, sekitar 45,45 persen lansia di Kaltim masih aktif bekerja. Artinya, hampir separuh lansia tetap menjalankan aktivitas ekonomi di usia senja. Apabila ditelisik lebih lanjut, mayoritas lansia yang bekerja berasal dari kelompok berpendidikan rendah. Sekitar 63,78 persen lansia yang bekerja hanya berpendidikan SD ke bawah. Hal ini dapat menjadi refleksi serta peringatan dini bagaimana tingkat pendidikan memiliki peran tidak langsung terhadap masa tua seseorang. Di mana dengan pendidikan yang memadai, dapat menjadi jaminan di masa tua nantinya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menakar Kualitas Generasi Penerus Kaltim

Menakar Kualitas Generasi Penerus Kaltim

Kualitas generasi yang sedang tumbuh hari ini akan menentukan wajah Kaltim pada masa mendatang.

Jebakan Akses Finansial Cepat di Tengah Rendahnya Literasi Keuangan

Jebakan Akses Finansial Cepat di Tengah Rendahnya Literasi Keuangan

Keseimbangan antara akses, literasi, dan perlindungan konsumen menjadi kunci agar inklusi keuangan menjadi instrumen pemberdayaan

Disrupsi Digital: Ancaman atau Peluang bagi Tenaga Kerja Kaltim?

Disrupsi Digital: Ancaman atau Peluang bagi Tenaga Kerja Kaltim?

Bagi pekerja yang mampu beradaptasi, perkembangan teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer