
Oleh:
Tonny Hartono
Kabid Teknologi Sumber Daya Industri DKUMKMP Balikpapan
KALTIMPOST.ID-Setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menghadirkan dua pertandingan. Pertama adalah pertandingan yang berlangsung di lapangan hijau.
Kedua adalah pertandingan yang berlangsung di ruang-ruang analisis, laboratorium data, bursa taruhan, media sosial, hingga ruang diskusi para penggemar sepak bola. Semua berlomba menjawab satu pertanyaan yang sama: siapa yang akan menjadi juara dunia?
Pada era kecerdasan buatan, prediksi menjadi semakin canggih. Superkomputer menjalankan jutaan simulasi, ekonom membangun model matematis, analis statistik mengolah ribuan variabel, sementara media sosial dipenuhi berbagai "ramalan", mulai dari paranormal hingga serial animasi The Simpsons. Semuanya berusaha menaklukkan ketidakpastian.
Namun, Piala Dunia FIFA 2026 kembali mengingatkan bahwa sepak bola selalu memiliki cara untuk mematahkan kesombongan prediksi manusia.
Baca Juga: Objek Wisata Jantur Tabalas Kubar Ditutup Sementara karena Ada Ritual Adat Festival Luuq Melapeh
Salah satu prediksi yang paling menyita perhatian datang dari ekonom Jerman, Joachim Klement. Melalui model ekonometrika yang menggabungkan peringkat FIFA, kualitas skuad, pengalaman turnamen, indikator ekonomi, jumlah penduduk, dan ribuan simulasi probabilitas, Belanda diproyeksikan sebagai calon juara dunia.
Pendekatan tersebut bukanlah ramalan, melainkan hasil analisis ilmiah yang dibangun di atas data. Dalam ilmu ekonomi dan statistika, metode seperti ini lazim digunakan untuk memprediksi inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga perilaku pasar. Namun, sepak bola bukanlah pasar modal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





