Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Negara yang Bekerja

R
Penulis: Redaksi❯
Wildan Taufiq, Penggemar Kajian Budaya.
Wildan Taufiq, Penggemar Kajian Budaya.

Advertisement

Oleh: Wildan Taufiq (Penggemar Kajian Budaya)

KALTIMPOST.ID - Dalam pembukaan Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, 10 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto mengajak para pengusaha membangun optimisme dan memperkuat nasionalisme sebagai fondasi menghadapi tantangan ekonomi.

Ajakan tersebut layak diapresiasi. Di tengah perlambatan ekonomi global, fragmentasi geopolitik dan kompetisi teknologi yang semakin ketat, pesimisme hanya akan melumpuhkan keberanian untuk berinvestasi, berinovasi, lebih-lebih mengambil risiko.

Advertisement

Namun, sejarah mengajarkan bahwa optimisme yang didasari nasionalisme tidak otomatis melahirkan kemajuan. Sejak gelombang dekolonisasi pada pertengahan abad ke-20, puluhan negara memperoleh kemerdekaan dengan modal yang hampir sama yakni nasionalisme yang menggelora, kekayaan sumber daya, dan tekad mengejar ketertinggalan.

Hasilnya ternyata sangat berbeda. Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan kemudian Tiongkok berhasil melakukan transformasi ekonomi. Sebaliknya, banyak negara lain tetap terjebak dalam pertumbuhan rendah, konflik politik, bahkan kemiskinan yang berkepanjangan. Nasionalisme hadir pada hampir semua negara tersebut, tetapi kemakmuran tidak.

Paradoks inilah yang kemudian mengubah arah kajian ekonomi pembangunan. Para ekonom dan intelektual tidak lagi bertanya mengapa sebagian bangsa memiliki semangat kebangsaan yang lebih kuat, melainkan mengapa bangsa yang sama-sama memiliki nasionalisme dapat menghasilkan capaian pembangunan yang sangat berbeda.

Advertisement

Pemikir Aljazair, Malek Bennabi, telah mengingatkan persoalan ini sejak pertengahan abad ke-20. Dalam The Conditions of the Renaissance (1948), Bennabi menjelaskan bahwa krisis masyarakat bukan semata persoalan kekurangan sumber daya atau manusia, melainkan persoalan peradaban (problem of civilization).

Lebih lanjut Bennabi menjelaskan persoalan peradaban itu sebagai ketidakmampuan mengorganisasikan potensi yang dimiliki menjadi kekuatan yang produktif. Dalam karya berikutnya, The Problem of Culture (1959), ia menegaskan bahwa kemajuan ataupun kemunduran masyarakat berkaitan erat dengan sistem gagasan yang membentuk organisasi sosialnya.

Bennabi tidak menolak pentingnya semangat kolektif, tetapi mengingatkan bahwa semangat hanya akan menghasilkan perubahan apabila ditopang oleh organisasi sosial yang mampu bekerja.

Temuan Bennabi memperoleh pembenaran dari berbagai penelitian mutakhir. Data Worldwide Governance Indicators Bank Dunia memperlihatkan pola yang menunjukkan negara-negara dengan efektivitas pemerintahan, kualitas regulasi, penegakan hukum, dan pengendalian korupsi yang tinggi hampir selalu menjadi negara dengan daya saing ekonomi yang kuat.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Disdag Balikpapan Kota Cek Alat Ukur BBM di SPBU KM 4,5

Disdag Balikpapan Kota Cek Alat Ukur BBM di SPBU KM 4,5

Disdag Balikpapan terus memperketat pengawasan alat ukur dan takaran di sejumlah SPBU guna menjamin akurasi volume BBM bagi konsumen

Modal Infrastruktur dan Letak Strategis, Balikpapan Siap jadi Tuan Rumah Porprov Kaltim IX/2030

Modal Infrastruktur dan Letak Strategis, Balikpapan Siap jadi Tuan Rumah Porprov Kaltim IX/2030

Balikpapan menyatakan siap menjadi tuan rumah Porprov Kaltim IX/2030. Dukungan pemerintah, infrastruktur olahraga, dan letak jadi modal.

Program MBG di SMPN 18 Balikpapan Berjalan Lancar, Sasar 925 Pelajar Termasuk Siswa Baru

Program MBG di SMPN 18 Balikpapan Berjalan Lancar, Sasar 925 Pelajar Termasuk Siswa Baru

925 siswa SMP Negeri 18 Balikpapan kembali menerima paket Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika memulai Tahun Ajaran 2026/2027.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer