
Romdani
Pemimpin Redaksi
KALTIMPOST.ID-Minggu (19/7) dini hari hingga pagi, saya ikut menyaksikan final Piala Dunia 2026. Spanyol akhirnya mengangkat trofi setelah mengalahkan Argentina.
Selebrasi para pemain pecah. Lamine Yamal berlari memeluk rekan-rekannya. Wajahnya tampak lega. Di usia 19 tahun, ia sudah menjadi juara dunia.
Beberapa jam setelah pertandingan usai, linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat. Banyak yang menyebut Yamal telah menyamai pencapaian Kylian Mbappe. Sama-sama berusia 19 tahun. Sama-sama mengangkat trofi Piala Dunia untuk negaranya.
Sekilas memang demikian. Namun, semakin lama saya memikirkan perbandingan itu, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan soal kualitas pemainnya. Melainkan tentang bagaimana sejarah akhirnya mengingat mereka.
Yamal adalah juara dunia. Tidak ada yang bisa membantah itu. Tetapi saya belum melihat aura fenomena yang pernah dimiliki Mbappe pada Piala Dunia 2018.
Barangkali sebagian orang tidak sependapat. Sebab Yamal memang tampil luar biasa. Dribelnya sulit dihentikan.
Umpan-umpannya membuka ruang. Keputusan yang ia ambil di lapangan sering kali jauh lebih matang dibanding usianya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





