Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sepatu Hitam, Surat Terbuka buat Kadisdikbud Balikpapan

I
Penulis: Ismet Rifani❯
Ismet Rifani.

Advertisement

Oleh: Ismet Rifani (Redaktur Kaltim Post)

INI persoalan klasik. Sudah diperdebatkan sejak duluuuuuu sekali. Sejak zaman Pak Harto. Sejak Mendikbud-nya Fuad Hasan atau bahkan Mendikbud sebelumnya. Sejak ke sekolah wajib bersepatu.

Saya tidak tahu siapa yang memulai. Tak ada referensi pasti. Mungkin idenya bagus. Supaya seragam. Kan agak aneh nyerempet lucu kalau satu murid ke sekolah pakai sepatu ala koboi, lalu temannya pakai sepatu balet ungu muda, dan teman yang lain lagi pakai sepatu bola pink. 

Advertisement

Supaya sekolah tak jadi ajang pentas beda strata. Siswa kaya pakai alas kaki Gucci atau LV berbagai warna, siswa pas-pasan cukup pakai sepatu sejuta umat merek B..a. Yang satu bisa pongah, yang satu minder di pojok. Tak mendidik. 

Maka keluar kebijakan, ke sekolah harus pakai sepatu hitam. Ngematch dengan seragam. Celana merah, baju putih, sepatu hitam. Cakep. Atau biru putih hitam, juga abu-abu putih hitam. Orang Betawi kate, gue demen amat ini. 

Sampai sini tak ada persoalan. Masalahnya, Pak Irfan, sekolah dan pabrik sepatu tak satu frekuensi dan jelas beda visi. Pabrik sepatu menangkap peluang sekaligus kebutuhan akan sepatu hitam ini. Tapi terkadang ada pabrik yang menambahkan sedikit unsur warna lain sebagai pemanis.

Advertisement

Supaya pembeli tertarik. Bisa sol yang warna putih atau merk-nya berwarna nonhitam, atau ada pernik-pernik kecil. Intinya di sepatu hitam ada tercampur warna lain. Tapi jika kita tanya ke orang, apa warna sepatu itu, jawabnya pasti hitam.

Takkan ada yang menyebut sepatu Kadisdikbud Pak Irfan hitam, bergaris putih merah putih lambang Gucci. Atau sepatu Pak Wali Kota Rahmad Mas'ud warna hitam, bersol putih dengan merek LV. Pasti orang bilang, itu sepatu hitam. 

Lalu kenapa siswa ke sekolah bersepatu hitam, dengan sol putih dilarang. Siswa bersepatu hitam tertera merek (Ardilles, Eagle, Speec, Tomkins,  Ventela, Brodo, Kanky, Kasogi, Aerostreet, League, Ando, Astec dstnya) nonhitam DILARANG?  Sengaja saya pilih merek lokal di atas, supaya membantu industri dalam negeri. Meski kini sepatu brand dari luar juga dibuat di Indonesia dengan lisensi. 

Yang mau saya sampaikan adalah, mengapa sekolah masih berkutat kepada urusan-urusan sunnah muakad seperti ini. Persoalan sepele. Sol putih dilarang, ada merek nonhitam dilarang, tali sepatu tidak hitam dilarang. Pikirkan dong urusan wajib, bagaimana menambah kuantitas dan kualitas guru. Bagaimana memperbaiki toilet sekolah, memastikan ketersediaan air bersih untuk murid buang hajat. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jelang Tahun Ajaran Baru, Pedagang Seragam Sekolah Keluhkan Penurunan Penjualan

Jelang Tahun Ajaran Baru, Pedagang Seragam Sekolah Keluhkan Penurunan Penjualan

Penjualan seragam sekolah di Balikpapan menjelang tahun ajaran baru 2026/2027 masih sepi. Pedagang mengeluhkan daya beli masyarakat turun.

Kabut Asap Selimuti Balikpapan, Seluruh Sekolah Terapkan PJJ

Kabut Asap Selimuti Balikpapan, Seluruh Sekolah Terapkan PJJ

Pemerintah Kota Balikpapan kembali memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh siswa mulai Kamis (22/10/2026).

Kabut Asap Makin Parah, Balikpapan Terapkan PJJ 3 Hari dan Hentikan Sementara Program MBG   

Kabut Asap Makin Parah, Balikpapan Terapkan PJJ 3 Hari dan Hentikan Sementara Program MBG  

Pemkot Balikpapan resmi menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama tiga hari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer