
Oleh:
Syafruddin Pernyata
Tokoh Literasi Kaltim
SUATU hari saya menyusuri Sungai Mahakam. Air mengalir tenang, sementara perahu yang saya tumpangi membelah arus menuju sebuah kecamatan di pedalaman. Di kejauhan berdiri sebuah jembatan beton yang megah. Bentangnya panjang, tiangnya menjulang, seolah menjadi lambang kemajuan.
Saya membayangkan besarnya manfaat jembatan itu. Ia tentu dibangun untuk menghubungkan wilayah, memperpendek waktu tempuh, memperlancar arus barang dan jasa, sekaligus membuka keterisolasian masyarakat.
Ketika perahu merapat, saya bertanya kepada beberapa warga.
"Apakah jembatan itu sudah bisa dilewati?"
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum tipis.
"Belum, Pak. Sudah lebih dari sepuluh tahun."
Saya terdiam.
Bukan karena jembatannya rusak. Bangunan itu tetap berdiri kokoh. Persoalannya ternyata sederhana, tetapi sangat mendasar: jalan pendekat menuju jembatan belum tersedia. Tanpa jalan pendekat, jembatan itu belum mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai penghubung.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




