Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengajar dengan Data, Bukan Dugaan: Menjadikan Asesmen Formatif sebagai Dasar Perbaikan Pembelajaran

R
Penulis: Redaksi KP❯
Salamia
Salamia

Advertisement

Oleh:

Salamia

Guru Matematika MTsN 1 Balikpapan, IRo-Society Balikpapan

Advertisement

DI banyak ruang kelas, guru menghadapi pertanyaan yang sama: mengapa materi telah diajarkan, tetapi hasil belajar murid belum menunjukkan perubahan yang diharapkan? Pembelajaran berlangsung tertib, silabus selesai, dan nilai telah dibagikan. Namun, pemahaman murid belum tentu mendalam.

Persoalannya mungkin bukan pada seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa tepat pembelajaran merespons kebutuhan murid. Pendidikan tidak semestinya berhenti pada selesainya target kurikulum, tetapi harus memastikan murid benar-benar belajar dan berkembang.

Karena itu, pembelajaran berbasis data dan asesmen formatif semakin penting. Di tengah ruang kelas yang semakin beragam, guru tidak cukup mengandalkan dugaan atau kebiasaan lama. Keputusan pembelajaran perlu dibangun berdasarkan bukti mengenai perkembangan belajar murid.

Advertisement

Selama ini, penilaian di sekolah masih sering didominasi fungsi administratif dan sumatif. Ulangan, ujian, dan angka rapor menjadi ukuran utama keberhasilan. Penilaian seolah hadir di akhir proses untuk mengukur apa yang telah dicapai. Akibatnya, guru terkadang terlambat mengetahui kesulitan murid ketika kesempatan memperbaikinya sudah semakin sempit.

Padahal, data pembelajaran tersedia setiap hari. Kehadiran murid, partisipasi dalam diskusi, hasil tugas, pertanyaan yang muncul, kesalahan yang berulang, hingga respons terhadap penjelasan guru merupakan jejak belajar yang dapat dibaca. Data tidak selalu berupa tabel rumit atau hasil aplikasi digital. Yang terpenting adalah kemampuan guru mengubah informasi tersebut menjadi dasar tindakan.

Di sinilah asesmen formatif memiliki peran penting. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan murid sekaligus menentukan langkah perbaikan. Bentuknya pun sederhana: pertanyaan reflektif, kuis singkat, diskusi kelompok, exit ticket, atau observasi terhadap kesulitan murid.

Perbedaannya dengan asesmen sumatif terletak pada orientasinya. Jika asesmen sumatif terutama mengukur hasil akhir, asesmen formatif digunakan untuk memperbaiki proses. Penilaian bukan sekadar alat memberi nilai, melainkan sarana membantu murid memahami kekurangan dan menentukan langkah berikutnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Disdikbud Kubar dan PT BEK Bekali 60 Guru dengan Pelatihan Public Speaking   

Disdikbud Kubar dan PT BEK Bekali 60 Guru dengan Pelatihan Public Speaking  

Disdikbud Kubar bersama PT Barinto Ekatama (BEK) menggelar pelatihan public speaking dan pembangunan motivasi positif guru.

Dinas Pendidikan Paser Kembali Gelar Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2026

Dinas Pendidikan Paser Kembali Gelar Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2026

Disdikbud Kabupaten Paser resmi menggelar kembali program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tahun 2026.

AI dalam Kurikulum Merdeka: Membantu Guru atau Justru Membuat Guru Bergantung?

AI dalam Kurikulum Merdeka: Membantu Guru atau Justru Membuat Guru Bergantung?

AI membawa peluang besar bagi pendidikan, tetapi guru tetap memegang peran penting agar teknologi tidak menggantikan sentuhan manusia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer