Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menakar Negosiasi Iran–Oman dan Dampaknya bagi Indonesia

R
Penulis: Redaksi KP❯
Aji Cahyono
Aji Cahyono

Advertisement

Oleh:

Aji Cahyono
Pemerhati Geopolitik Indonesia & Timur Tengah; Founder Indonesian Coexistence

PERKEMBANGAN terbaru mengenai Selat Hormuz memperlihatkan bahwa diplomasi Timur Tengah memasuki fase yang jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan membuka atau menutup jalur pelayaran. Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan mengenai koridor pelayaran baru. Namun, Teheran menegaskan bahwa kesepakatan teknis tersebut belum cukup untuk membuka kembali Selat Hormuz karena keputusan akhir tetap dikaitkan dengan pemenuhan sejumlah tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat.

Advertisement

Posisi tersebut penting karena Selat Hormuz bukan hanya persoalan geografis antara Teluk Persia dan Teluk Oman, melainkan salah satu simpul utama yang menghubungkan keamanan Timur Tengah dengan stabilitas ekonomi dunia. Sebelum krisis terbaru, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi kawasan tersebut. Karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran berpotensi meningkatkan harga energi, biaya transportasi, tekanan inflasi, serta ketidakpastian ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dalam konteks tersebut, negosiasi Iran dan Oman dapat dibaca sebagai upaya membangun mekanisme de-eskalasi teknis sebelum penyelesaian politik yang lebih besar antara Iran dan Amerika Serikat tercapai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 9 Agustus 2026 menyatakan bahwa Teheran dan Muscat telah mendekati kesepakatan mengenai mekanisme pengelolaan lalu lintas, termasuk kemungkinan penggunaan jalur pelayaran baru yang diharapkan menjadi dasar pengaturan permanen.

Oman memiliki posisi strategis karena selama bertahun-tahun dikenal mampu menjaga komunikasi dengan berbagai aktor yang berseberangan, termasuk Iran dan Amerika Serikat. Dalam negosiasi terbaru, Muscat berusaha mempertahankan karakter diplomatiknya dengan menekankan bahwa pembicaraan berlangsung positif dan konstruktif, sekaligus menyerukan agar tidak ada tindakan baru yang mengganggu kemajuan perundingan.

Advertisement

Karena itu, kesepakatan Iran-Oman sebaiknya tidak dipahami sebagai perjanjian pembukaan Selat Hormuz secara penuh, melainkan sebagai fondasi untuk menciptakan kondisi keamanan minimum bagi kembalinya pelayaran komersial. Iran masih mengaitkan pembukaan selat dengan persoalan politik, militer, ekonomi, dan hukum yang melibatkan Washington serta konsekuensi konflik sebelumnya.

Secara strategis, Iran tampaknya berusaha mengubah Selat Hormuz dari sekadar objek tekanan militer menjadi instrumen tawar-menawar diplomatik yang memiliki nilai ekonomi dan geopolitik besar. Teheran tidak hanya berbicara mengenai keamanan navigasi, tetapi juga berupaya memastikan setiap mekanisme baru memberikan pengakuan terhadap kepentingan keamanannya tanpa sepenuhnya menghilangkan prinsip kebebasan pelayaran internasional.

Rancangan koridor baru juga menunjukkan bahwa persoalan Hormuz memiliki dimensi teknis yang tidak sederhana. Di dalamnya terdapat pemisahan jalur, koordinasi angkatan laut, pengawasan kapal, mekanisme hukum, keselamatan navigasi, hingga kemungkinan biaya pelayanan pelayaran. Jika mekanisme tersebut benar-benar diterapkan, tantangan berikutnya adalah memastikan aturan baru tidak menimbulkan ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, maupun negara pengguna jalur tersebut.

Tarik Ulur Washington

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

AS Kerahkan 9.000 Pasukan ke Timur Tengah, 3 Kapal Induk Disiapkan Dekati Iran

AS Kerahkan 9.000 Pasukan ke Timur Tengah, 3 Kapal Induk Disiapkan Dekati Iran

AS memperkuat militernya di Timur Tengah dengan mengirim kapal induk ketiga dan ribuan personel tambahan ke kawasan Iran.

Konflik Iran hingga El Nino Bayangi Ekonomi Global, OJK: SJK Masih Stabil

Konflik Iran hingga El Nino Bayangi Ekonomi Global, OJK: SJK Masih Stabil

Konflik Iran, Selat Hormuz, El Nino, inflasi, dan perlambatan ekonomi global membayangi perekonomian dunia. OJK sebut jasa keuangan aman.

IRGC Iran Serang Kapal AS dan Tanker Minyak di Selat Hormuz, Konflik dengan Amerika Makin Memanas

IRGC Iran Serang Kapal AS dan Tanker Minyak di Selat Hormuz, Konflik dengan Amerika Makin Memanas

IRGC Iran mengklaim menyerang dua kapal AS, delapan kapal tanker minyak, dan 10 kapal lainnya di sekitar Selat Hormuz.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer