
๐พ๐๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฃ ๐ผ๐ ๐๐๐๐ข๐๐จ: "๐๐๐ฉ๐๐ ๐ ๐๐ช๐ฉ๐๐ฃ ๐๐๐ง๐๐๐ ๐๐ง, ๐๐๐ ๐ฎ๐๐ฉ ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ง๐ช๐ฅ ๐๐๐๐ช๐ฃ, ๐๐๐ฃ ๐๐๐๐๐ง๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฝ๐ค๐ก๐๐ ๐ฝ๐๐ง๐จ๐๐ข๐๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐ ๐ฝ๐๐ก๐๐ ๐ผ๐ฃ๐๐ ๐"
Oleh:
J. Kuleh
Akademisi Universitas Mularman
Indonesia tidak boleh terus-menerus memperlakukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana musiman yang datang, membakar, menimbulkan asap, lalu dilupakan ketika hujan turun. Karhutla adalah persoalan serius yang menyangkut keselamatan jiwa, kesehatan masyarakat, kerusakan ekosistem, kerugian ekonomi, dan kredibilitas pemerintah dalam melindungi rakyat.
Ironisnya, Indonesia memiliki lembaga penanggulangan bencana, kementerian lingkungan hidup, BMKG, teknologi pemantauan satelit, aparat keamanan, serta anggaran negara. Namun, ketika titik api bermunculan, masyarakat masih harus bertanya: siapa yang bertanggung jawab, berapa luas lahan yang terbakar, berapa warga yang terdampak, berapa korban meninggal, dan apakah perusahaan atau individu yang terbukti sengaja membakar benar-benar dihukum?
Negara tidak boleh mengukur keberhasilan penanganan karhutla hanya dari berapa banyak api yang dipadamkan. Ukuran utamanya adalah berapa banyak kebakaran yang dicegah, berapa luas hutan yang diselamatkan, berapa warga yang dilindungi, dan berapa pelaku yang dimintai pertanggungjawaban.
Klaim keberhasilan tanpa data terbuka dan terverifikasi hanya akan melahirkan optimisme administratif, sementara masyarakat menanggung risiko nyata di lapangan.
1. ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ผ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐๐ฟ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ต๐๐๐น๐ฎ 2026: ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ ๐ฟ๐ฒ๐๐บ๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐๐ ๐ฒ๐๐๐ถ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ถ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป
Data kebakaran hutan dan lahan Indonesia hingga Oktober 2026 memperlihatkan persoalan serius yang tidak boleh ditutupi oleh laporan keberhasilan pemadaman. Berdasarkan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, luas areal karhutla nasional selama JanuariโJuli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat 69 persen atau sekitar 82.791 hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025, meningkat 80 persen dibandingkan 2023, dan 47 persen dibandingkan 2019. Artinya, berdasarkan data pemerintah sendiri, kebakaran pada tujuh bulan pertama 2026 telah melampaui capaian tahun-tahun pembanding tersebut secara signifikan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




