
Oleh: Dimas Haryo Pamungkas
Peneliti dan Pengamat Kebijakan Publik
Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Indonesia, kelapa sawit hampir selalu menjadi salah satu pihak yang paling cepat disalahkan. Seolah-olah setiap hutan yang terbakar pasti berkaitan dengan ekspansi perkebunan sawit.
Padahal, apakah benar lahan yang terbakar tersebut akan menjadi perkebunan sawit? Apakah api memang berasal dari kegiatan perkebunan? Atau justru kebakaran bermula dari luar kawasan perkebunan, kemudian merambat ke berbagai penggunaan lahan lainnya?
Data hotspot dari satelit MODIS maupun VIIRS dapat membantu mendeteksi aktivitas panas dan perkembangan kebakaran. Namun, persoalan mendasarnya justru terletak pada data hotspot yang tidak otomatis menjelaskan dari mana api pertama kali berasal, siapa pelakunya, apalagi untuk tujuan apa lahan tersebut dibakar.
Ironisnya, kesimpulan mengenai pihak yang dituduh harus bertanggung jawab terkadang lebih cepat muncul sebelum ada pembuktian ilmiahnya yang lebih spesifik. Lebih buruknya lagi, semua kesalahan disematkan pada 1 komoditi, kelapa sawit. Persoalan ini sebenarnya jauh lebih besar daripada persoalan karhutla yang saat ini sedang dihadapi.
Selama puluhan tahun, berbagai kampanye lingkungan internasional telah membentuk persepsi global bahwa kelapa sawit identik dengan deforestasi, kerusakan lingkungan, dan emisi karbon tinggi.
Saya melihat ada kepentingan ekonomi global yang patut dipertanyakan di balik kuatnya kampanye tersebut. Siapa yang mendanai berbagai organisasi lingkungan internasional? Adakah kepentingan bisnis komoditas pesaing yang turut memperoleh keuntungan dari tekanan terhadap sawit?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




