Menyalakan Spirit Datu Kalampayan dalam Membangun Kualitas SDM melalui Perguruan Tinggi

Oleh: Dr. H. Rendi Susiswo Ismail, S.E., S.H., M.H
Pada 1710, di sebuah kampung kecil bernama Lok Gabang, Martapura, lahir seorang anak yang kelak mengubah wajah peradaban Kalimantan. Namanya Muhammad Arsyad bin Abdullah. Kecerdasannya sudah tampak sejak kecil, hingga Sultan Banjar membawanya ke istana untuk dididik. Ketika dewasa, ia berangkat ke Tanah Suci dan menuntut ilmu di Makkah dan Madinah selama lebih dari tiga puluh tahun. Masyarakat Banjar mengenangnya sebagai Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau dengan penuh takzim, Datu Kalampayan.
Perjalanan hidup beliau adalah potret utuh tentang makna pendidikan. Ilmu tidak didapat dengan jalan pintas. Selama tiga dasawarsa ia jauh dari kampung halaman, berguru kepada ulama-ulama besar dunia Islam, dan bersahabat dengan para penuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara. Kesungguhan itulah fondasi pertama membangun kualitas sumber daya manusia: kemauan untuk terus belajar, betapa pun panjang jalannya.
Keistimewaan beliau tidak berhenti pada kedalaman ilmunya. Sepulang ke tanah Banjar sekitar 1772, ia tidak memilih hidup nyaman di lingkungan istana. Ia justru meminta sebidang tanah yang masih berupa hutan belukar, lalu mengubahnya menjadi kampung ilmu bernama Dalam Pagar. Di sana berdiri rumah para guru, tempat mengaji, perpustakaan, dan asrama santri, semuanya menyatu dalam satu kawasan. Model seperti ini belum pernah ada di Kalimantan sebelumnya. Pendidikan dipahami bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan manusia seutuhnya. Dalam Pagar juga menjadi pusat kehidupan. Bersama murid-muridnya, Syekh Arsyad membuka sawah, menanam sayur-mayur, dan membangun saluran irigasi. Para santri belajar ilmu agama sambil menguasai keterampilan hidup, dan lembaga pendidikannya berdiri di atas kaki sendiri. Visinya melampaui zaman yakni manusia berkualitas adalah manusia yang berilmu, berakhlak, sekaligus mandiri dan produktif.
Cara beliau mengajar pun patut direnungkan. Ia mendidik dengan keteladanan, dengan lisan melalui pengajian yang terbuka bagi siapa saja dan dengan pena melalui kitab-kitab yang dibaca lintas generasi. Karya monumentalnya, Sabilal Muhtadin, ia tulis dalam bahasa Arab-Melayu agar ilmu sampai kepada rakyat banyak, bukan hanya kepada segelintir orang yang menguasai bahasa Arab. Kitab itu kemudian dibaca di berbagai penjuru Asia Tenggara. Beliau juga tidak sekadar menyalin apa yang ia pelajari di negeri orang. Ilmu dari Tanah Suci ia olah dengan kepekaan terhadap kehidupan masyarakatnya. Ia melihat perempuan Banjar ikut bekerja di sawah dan berdagang di pasar. Karena itu, dalam soal pembagian harta keluarga, ia menawarkan jalan yang adil sesuai kenyataan hidup masyarakat Banjar.
Perhatiannya pada pendidikan perempuan pun menonjol. Putrinya, Syarifah, menjadi guru mengaji bagi kaum perempuan. Cucunya, Fatimah binti Abdul Wahab Bugis, belajar langsung kepada sang kakek lalu menyusun Kitab Parukunan, yang kemudian tersimpan di hampir setiap rumah orang Banjar. Dari Dalam Pagar lahir generasi demi generasi ulama, guru, dan pemimpin, termasuk mereka yang kemudian mengemban amanah sebagai mufti dan kadi di Kesultanan Banjar.
Jika direnungkan, spirit Datu Kalampayan terasa sangat dekat dengan tantangan pendidikan tinggi hari ini. Perguruan tinggi kontemporer hidup di tengah perubahan yang serba cepat: teknologi digital dan kecerdasan artifisial mengubah cara orang belajar dan bekerja, sementara persaingan menuntut lulusan yang adaptif. Di tengah arus itu, kampus membutuhkan pegangan nilai, dan teladan dari Martapura menawarkannya.
Pertama, semangat belajar sepanjang hayat. Tiga puluh tahun berguru mengajarkan bahwa ilmu tidak selesai di wisuda. Perguruan tinggi harus menumbuhkan budaya belajar yang terus menyala, bagi mahasiswa maupun dosen, termasuk kesiapan untuk terus menguasai perkembangan teknologi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




