
SAAT listrik padam, urusan kita bisa berpindah dari memeriksa token ke memeriksa bahan bakar. Itu pun jika ada genset yang dapat dinyalakan. Tanpa sumber listrik cadangan, pekerjaan yang bergantung pada listrik mungkin harus menunggu.
Kita telah mengeluarkan uang untuk memperoleh layanan. Ketika layanan terganggu, ada pengeluaran lain agar kegiatan tetap berjalan. Membeli atau menyewa mesin, menyediakan bahan bakar, lalu merawatnya. Kemampuan menanggung semua itu tentu berbeda pada setiap rumah tangga dan usaha.
Di situlah pemadaman mempunyai ukuran yang lebih panjang daripada jam. Waktu padam yang sama dapat berarti tambahan pengeluaran bagi seseorang dan kehilangan kesempatan bekerja bagi orang lainnya. Lampu akhirnya menyala kembali, tetapi sebagian ongkos menghadapi gelap sudah terlanjur keluar. Dari listrik, pikiran saya bergerak ke air di dapur.
Kita mengenal kebiasaan merebus air untuk diminum. Ada pekerjaan di sana: memperoleh air, menyiapkan bahan bakar, memasaknya, lalu menunggu dingin. Kehidupan dahulu juga mempunyai ongkos. Namun, ketika persediaan air minum sebuah keluarga bertumpu pada pembelian galon, hubungan dengan kebutuhan itu terasa berubah. Persediaan harus diperiksa bersama uang untuk membeli berikutnya.
Pertanyaan yang tertinggal adalah bagaimana keadaan sumber air di sekitar kita. Apakah air yang layak digunakan masih mudah diperoleh, atau makin banyak sarana diperlukan untuk mengaksesnya? Di Kukar, Pemkab menerima bantuan 11 pompa air dari TNI AU pada September.
Menurut publikasi BPBD Kukar, pompa diprioritaskan untuk penanganan karhutla, dengan rencana pemanfaatan jangka panjang bagi pengairan sawah. Bupati Aulia Rahman Basri menyebut jarak antara sumber air dan lokasi yang membutuhkan sebagai salah satu kendala penyaluran air.
Keberadaan sumber belum selalu berarti kemudahan memperoleh manfaatnya. Ada jarak yang harus ditempuh dengan peralatan, tenaga, dan biaya. Lalu ada udara, kebutuhan yang bahkan tidak memberi kita kesempatan menunda.
Pada September, Dinas Kesehatan Kaltim menyatakan menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat karhutla. Dinkes juga menyebut persiapan cadangan tabung oksigen dan peralatan pendukung bagi fasilitas tersebut.
Penyiagaan itu penting. Sekaligus, keberadaannya membuat kita berhenti sejenak: udara di luar rumah dapat memburuk sampai pertolongan khusus perlu disediakan bagi orang yang terdampak.
Oksigen medis mempunyai kegunaan tersendiri. Menyebut semua orang kini membeli udara tentu melampaui kenyataan. Tetapi ada kegelisahan yang dapat dipahami di balik ungkapan itu. Bernapas, yang berlangsung tanpa banyak kita pikirkan, ternyata bergantung pada keadaan lingkungan yang harus dijaga bersama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




