Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Pemimpin Kehilangan Rasa Malu

M
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, Pernahkah Anda menyaksikan penangkapan koruptor, mulai dari kelas teri hingga kakap, yang melambaikan tangan sembari tersenyum lebar? Berjalan santai seolah-olah hendak digiring untuk mendapatkan piala penghargaan? Padahal, mereka sedang diborgol dan mengenakan rompi kuning. Ketika ditanya wartawan, tidak sedikit dari mereka yang menyangkal dan mencari kambing hitam atas perbuatan tercelanya itu. Mereka melontarkan kata-kata di hadapan publik seolah-olah menjadi korban sebuah sistem, skenario, operasi politik, dan semacamnya. Padahal, beragam bukti telah ditemukan yang mengarah pada diri mereka sebagai inisiator dan aktor utama perampasan uang negara.

Begitulah sebagian pejabat dan pemimpin publik kita. Pandai berkelit, jago bersilat lidah, seperti tupai yang pandai meloncat ke sana kemari. Laksana belut yang licinnya bukan main. Padahal, sepandai-pandainya tupai melompat dan sepintar-pintarnya belut meloloskan diri, pada akhirnya bisa tertangkap juga. Setiap bangkai yang disembunyikan pada akhirnya akan tercium juga.

Rasanya, kepercayaan kita kepada sebagian pengelola negara ini dari hari ke hari mulai terkikis. Bahkan, bisa dikatakan sudah di ujung tanduk. Berkali-kali kita dibohongi, ditipu, dan dimanipulasi sedemikian rupa demi meloloskan kepentingan dan hasrat kekuasaan bedebah-bedebah yang tidak berperikemanusiaan itu. Mereka bermanis-manis muka ketika hendak memperoleh dukungan dan simpati publik saat kampanye.

Selepas itu, semuanya seolah menjadi asing. Sebagian menghilang, sebagian lagi amnesia terhadap janji-janji politiknya. Apa yang dinyatakan saat pemilu ternyata hanya bualan kosong. Perbuatan dan perkataannya sama sekali tidak selaras. Lagi-lagi, kitalah yang harus menanggung kerugian. Terutama rakyat kecil. Jangankan memperoleh simpati, untuk sekadar didengarkan saja susahnya minta ampun. Lantas, ke mana rasa empati pemimpin-pemimpin semacam itu?

Advertisement

Belum lagi, tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang semakin membuat kita mengelus dada sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir, bisa-bisanya mereka selalu menodai kepercayaan kita sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di republik ini.

Padahal, ketika seseorang telah memberanikan diri mencalonkan diri, entah sebagai kepala desa, bupati, wali kota, gubernur, hingga presiden sekalipun, berarti saat itu pula dia harus rela mewakafkan sebagian hidupnya untuk masyarakat. Harus bersedia dengan lapang dada mencurahkan tenaga, pikiran, harta, bahkan jiwanya sekalipun untuk bangsa dan negara. Sebab, kekuasaan sesungguhnya adalah jalan untuk mendarmabaktikan diri kepada negeri. Kekuasaan adalah sarana untuk membangun negeri, bukan justru alat untuk memperkaya diri dan kroni-kroninya. Pada saat itulah, sebagian penguasa, saya rasa, sedang kehilangan rasa malu.

Padahal, setiap kekuasaan yang diemban merupakan mandat sekaligus amanah dari rakyat yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, kepentingan partai, golongan, keluarga, bahkan dirinya sendiri pun harus ditempatkan di bawah kepentingan rakyat. Rakyat, bagaimanapun juga, harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

Nyatanya, selama ini acap kali kita membaca atau menonton berbagai pemberitaan yang menunjukkan bahwa sebagian pemimpin kita cenderung mengutamakan kepentingan golongannya masing-masing. Bahkan, sudah banyak yang mengambil ancang-ancang untuk mencuri start menyongsong Pilpres 2029. Padahal, momentum tersebut masih tiga tahun lagi.

Mengapa tidak fokus saja mengevaluasi dan membenahi segala program kerjanya? Terutama program-program yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup wong cilik. Sebab, sekali lagi, pemimpin-pemimpin kita di segala level sejatinya adalah pelayan dan pengayom masyarakat, bukan majikan yang bisa bertindak sewenang-wenang atau sesuka hati. Di dalam jabatan yang diemban, ada tanggung jawab terhadap masyarakat yang harus dipenuhi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Moncer di Survei Kandidat Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Dinilai Terganjal Sosok Prabowo

Moncer di Survei Kandidat Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Dinilai Terganjal Sosok Prabowo

Meski memiliki hasil survei yang kuat sebagai kandidat Pilpres 2029, namun langkah KDM sebagai capres sulit.

Siapa Calon Presiden Terkuat Pilpres 2029? Survei SMRC Tempatkan Dedi Mulyadi di Posisi Teratas

Siapa Calon Presiden Terkuat Pilpres 2029? Survei SMRC Tempatkan Dedi Mulyadi di Posisi Teratas

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih dukungan 35,5 persen dalam simulasi semi terbuka yang melibatkan 24 nama tokoh.

Survei Capres SMRC 2026: AHY Ungguli Gibran 41,6 Persen, Ini Hasil Lengkapnya

Survei Capres SMRC 2026: AHY Ungguli Gibran 41,6 Persen, Ini Hasil Lengkapnya

Survei SMRC menempatkan AHY di angka 41,6 persen, unggul atas Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 36 persen dalam simulasi 2 nama capres.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer